Bersantai-santai di umur 30an adalah Passion gue

Tulisan ini ditulis di Jakarta, menuju perjalanan ke Bandung. Sambil mendengarkan lagu Bosan Mengingatkan nya Momonon. Dengarkan preview nya dibawah

Uang bukanlah tujuan hidup, tapi tanpa uang kita susah untuk hidup. Meski rezeki sudah ada yang mengatur, akan tetapi kita harus menjemput nya, bukan secara ajaib rezeki tersebut menghampiri kita.

Gue kepikiran untuk pengen bersantai-santai di umur 30an nanti. Gue pernah melihat meme tentang kehidupan. Di masa kecil, kita memiliki banyak waktu, banyak tenaga, tapi sedikit uang. Di masa muda, kita memiliki banyak uang, banyak tenaga, tapi sedikit waktu. Dan di masa tua, kita memiliki banyak uang, banyak waktu, tapi sedikit tenaga. Masa kecil gue bayangin diumur 1-17, dan masa muda gue bayangin diumur 18-33an, dan masa tua adalah sisa nya. Meskipun banyak yang bilang kalau masa muda berakhir pada umur 25, kalau menurut gue di umur 33an. Baca ini

Gue enggak menggunakan kata "Dewasa" disini, karena menurut gue kedewasaan seseorang itu relatif, sedangkan umur merupakan nilai yang absolut. Sekarang umur gue 21, sudah masuk ke masa muda. Alhamdulillah udah ada beberapa mimpi-mimpi kecil gue yang diraih, mimpi-mimpi yang gue tulis di kertas binder ketika pesantren dulu.

Dan sekarang, waktu nya mengejar mimpi yang lebih besar. Yang lebih serius. Yang memakan waktu yang tidak sebentar. Dimulai diumur 21 ini, yang berarti gue masih punya waktu sekitar 2 bulan sebelum "resmi" berumur 21.

Enggak bermaksud gimana-gimana, tapi gue ngeliat temen-temen gue, sodara-sodara gue, dll nya mereka senang berada di zona yang slow gitu, atau bahasa lagu nya "zona nyaman". Menjalani hidup seperti air yang mengalir, nyaman, tenang, dan santai. Dan ini enggak salah, karena setiap orang memiliki tujuan hidup nya masing-masing.

Gue waktu di pesantren dulu pernah dikasih wejangan "nyaman di dunia, aman di akhirat", yang berarti hidup itu harus balance. Dan ya, aman dan nyaman ini relatif, dan ini menurut pandangan gue. Gue akan membagikan tentang apa yang akan gue lakukan tentang apa yang gue tulis disini.

Berpindah

Berpindah enggak selalu tentang perjalanan, tentang pulang. Ketika lo berada di suatu tempat yang menurut lo enggak beres, maka lo harus membenahi nya. Kalau belum bisa (atau memang enggak bisa) di benahi, pindahlah.

Seperti lo ingin hidup sehat, tapi tinggal di lingkungan yang kurang sehat. Misal, dilingkungan yang penuh dengan perokok. Cara agar lo bisa sehat tinggal disitu adalah dengan membuat mereka berhenti merokok, kalau enggak bisa, mau enggak mau lo harus pindah demi "sehat" yang lo mau tersebut. Dan lo bisa kembali ke tempat tersebut, jika memang semua nya sudah berubah. Pada berhenti merokok. Pulang.

Gue orang Pandeglang, dan pada umur 10 tahunan, gue pindah ke Serang. Banyak yang berubah dari diri gue, keluarga gue, dan juga kondisi rumah tangga. Mungkin kalau gue masih tinggal di Pandeglang, gue enggak bakal terjun ke dunia Software Development. Menjadi seorang Software Engineer, atau bahkan bisa kuliah di Bandung. Who, knows? Dengan berpindah, keluarga gue mengambil keputusan yang beresiko: jauh dari keluarga mereka, harus bergaul dengan lingkungan baru, dan banyak hal lain nya. Tapi usaha mereka tidak sia-sia setelah melihat kondisi rumah tangga yang sekarang, meskipun ada yang berubah jika dibandingkan dengan dulu. People always change.

Dan sekarang, gue tinggal di Bandung. Numpang di kota orang, demi menjadi lebih baik dari yang dulu-dulu, bermulai dari kuliah. Semua kuliahan sama, belajar; nugas, dll. Tapi di bangku perkuliahan, kita akan belajar cara berfikir. Cara memandang kehidupan, memandang lingkungan, mengatur mindset. Dan semua aspek tersebut, lingkungan memiliki peran. Maka dari itu gue disuruh kuliah di Bandung daripada di Banten, karena orang tua gue mungkin berfikir seperti yang gue tulis tersebut. Mengingat semua keluarga gue orang tua gue semua nya kuliah di Bandung.

Dan ketika gue udah punya cukup bekal, mungkin gue bisa merubah kondisi kota tempat gue berasal. Atau... menunggu masyarakat kota tersebut berubah saja, atau... Tetap di kota ini, bukan sebagai imigran.

Dan gue bisa "Pulang". Seperti orang tua gue, yang "pulang" kekita hari lebaran.

Baterai gue 5%, gue jadiin draft dulu. Lupa di charge laptop nya.

Berubah

Setiap orang berubah, justru bahaya jika tidak berubah. Ada hadist/mahfudzot/ayat Al-Qur'an gue lupa yang berbunyi "Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, kita termasuk orang yang beruntung. Bila sama saja, kita termasuk orang yang merugi. Dan bila lebih buruk, kita termasuk orang yang celaka".

Dan pasti nya, kita menginginkan perubahan ke arah yang positif, menjadi lebih baik. Banyak orang yang khawatir dengan perubahan, termasuk orang-orang yang berada di zona nyaman. "Lo berubah sekarang mah jarang main, sama keluarga mulu", "Lo berubah sekarang mah baca buku mulu, jarang nongkrong", "Lo berubah sekarang mah jarang ke mesjid, ngurusin dunia mulu". Dan masih banyak Lo berubah lainnya, silahkan tambahkan sendiri.

Tanda nya, mereka khawatir dengan perubahan. Tidak menginginkan sebuah perubahaan. Ingin tetap menjadi seperti dulu. Jika dulu rajin ke mesjid, harus nya lo berubah lah jadi lebih rajin ke mesjid. Contoh aja ya itu mah, semoga menjadi doa.

Intinya, jika ingin menjadi baik dan lebih baik, berubahlah. Allah tidak akan merubah suatu kaum, sampai mereka yang merubahnya sendiri.

Berkorban

Tapi jangan jadi korban. Orang-orang yang khawatir dengan resiko, salah satu nya orang-orang yang tidak berani berkorban. Enggak mau mengorbankan waktu nongkrong nya untuk belajar, karena takut dibilang sombong. Enggak mau mengorbankan beberapa rupiah untuk sedekah, karena takut miskin enggak ada duit. Enggak mau meluangkan beberapa menit nya untuk ibadah, karena takut rugi beberapa dolar.

Sedangkan, ya elah berkorban enggak bakal rugi kalau lo enggak menjadi korban. Lo ngorbanin duit lo untuk mabok, yaa lo jadi korban kan atas alkohol yang lo telen. Lo ngorbanin waktu lo untuk belajar, enggak ada yang jadi korban. Buku? Jadi dibaca. Lo? Jadi dapet pengetahuan. Maka, berkorbanlah. Tapi jangan menjadi korban.

Bermuhasabah

Berbicara dengan orang lain, mendiskusikan masalah yang lo punya ke orang terdekat, membuat kita tenang. Tapi yang benar-benar mengetahui masalah tersebut adalah kita, dan terkadang orang lain mendengar hanya untuk tau, bukan memberi solusi. Meskipun hal tersebut bisa membuat kita tenang, tapi keputusan tetap kita yang memilih.

Bermuhasabah membuat kita mengenal lebih dekat dengan diri kita sendiri. Bermuhasabah bisa membuat kita lebih baik, membuat kita bisa berpindah; Berubah, Berkorban, dan berfikir. Enggak selalu setiap masalah bisa diselesaikan dengan berpindah, enggak selalu berubah menjadi solusi, dan berkorban menjadi pilihan, tapi dengan bermuhasabah, kita bisa menentukan pilihan terbaik. Karena di setiap bermuhasabah, biasanya diselipkan sebuah doa.

Back to the topic

Keempat "ber" diatas hanyalah sebuah fondasi, sebuah kerangka kerja, sebuah blueprint. Hal-hal yang mau gue lakukan agar judul tulisan ini bisa terealisasikan  salah satu nya adalah dengan menabung. Target 9 digit di rekening. Beli sesuatu karena butuh, bukan karena ingin

Sisanya ya seperti biasa: belajar, bekerja, bermain. Beribadah mah enggak usah disebutin, karena kewajiban bukan suatu pilihan :)

So, that's it. Inti dari panjang tulisan ini adalah cuma ngasih tau kalau kesimpulan nya adalah dengan menabung. Tapi kalau lo tipe orang yang menyukai proses nya juga bukan hanya melihat hasil, so you are welcome to read all of this words. btw laptop gue udah mati, lanjut nulis di hp. dan pengalaman nulis di safari hp ini enggak enak banget dah.

P.S: ngetik di bis ekstrim guys haha dipaling belakang dideket kaca belakang area smoking lagi 

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.