Blogging for living

Tentu ini pilihan yang sangat sulit.

Selama ini gue coding for living, yang berarti gue hidup dari coding. Gue coding untuk tetap hidup. Enggak ada yang masalah dengan coding dalam hidup gue, bahkan coding--menulis code yang biasanya untuk memberikan solusi dari suatu masalah--salah satu passion gue.


Ada salah satu kutipan favorit gue dari seorang filsuf yang bernama Descartes: Cogito, ergo sum. I think therefore I am. Gue berfikir, maka gue ada. Mungkin ketika gue coding, memikirkan sebuah algoritma, business-logic, dll nya, berarti gue merasa kalau gue ada. Karena gue berfikir, eksistensi gue diakui.

Tapi apakah gue selama nya akan menulis code? Berfikir hanya ketika ngoding aja? Enggak, gue orang nya enggak gitu. Bahkan setiap apa yang gue pelajari dan gue ketahui, gue harus menyebarkan nya. Gue enggak mau cuma gue yang tau, dan gue aja yang mendapatkan pelajaran baru. Gue bukan guru, background gue pun bukan dari pendidikan, tapi pengetahuan enggak selalu hanya diberikan/dibagikan oleh seseorang ber-profesi guru/dosen.

Maka dari itu gue selalu lebih menyukai kata Pembelajar ketimbang Pelajar. Karena title Pelajar hanya diberikan kepada mereka yang belajar, dan di bangku persekolahan. Ketika sudah menempati ke perguruan tinggi, title itu pun berubah menjadi Mahasiswa.

Lalu, untuk orang-orang yang mungkin sudah/tidak menduduki bangku per-sekolahan/per-kuliahan, dan tetap ingin belajar bahkan ingin seumur hidup selalu belajar, title apa yang diberikan oleh mereka?

Begitupula dengan seseorang yang mengajar. Gue selalu menghindari kata mengajar, karena gue bukan seorang pengajar/guru/dosen. Gue selalu menggunakan kata berbagi, membagikan apa yang gue tau dan pelajari. Agar apa yang dibagikan tersebut jadi nya "belajar bareng" bukan "mengajari". Rata-rata orang yang mengajar itu sombong (meskipun mereka tidak menyadarinya), mereka yakin dengan apa yang mereka ketahui; pelajari; Karena mereka sudah mempelajari nya. Bahkan level pendidikan mereka lebih atas dari kita.

Sayangnya, pengetahuan itu bergerak cepat. Kalian kalau tidak gengsi untuk mengejar pengetahuan ketingkatan yang lebih tinggi, maka kalian akan tetap berada pada tingkatan yang rendah. Seperti gini contohnya, mungkin kalian setuju bahwa untuk membuat aplikasi iOS, satu-satu nya cara adalah dengan menggunakan Objective-C. That's true. Kalian sudah ada pengalaman dengan membuat aplikasi iOS, bahkan kalian sudah mempelajari nya sampai ke jenjang S2 misalnya hanya untuk menguasai Computer Science di bahasa pemrograman Objective-C.

Tapi sekarang 2018, bukan 2013. Pada tahun 2014 di acara WWDC, Swift mulai diperkenalkan. Swift memiliki desain yang strongly-typed, easy to read, hard to write bug. Beda dengan Objective-C yang terkenal dengan null-pointer dan The Billion Dollar mistakes nya. Jadi, apakah argumen untuk membuat aplikasi iOS harus menggunakan Objective-C masih valid?. Tergantung. Bagi gue seseorang yang terus belajar: Argumen tersebut sudah tidak valid (lagi).


Itulah mengapa gue blogging. Ketika kita membagikan sesuatu kepada seseorang secara langsung (tatap muka misalnya), kemungkinan nya adalah: Orang tersebut berterima kasih (mungkin secara tidak langsung) karena telah mengetahui sesuatu yang baru, dan orang tersebut enggak peduli karena enggak mau tau alias naonsi anying peduli setan aing. Beda dengan blogging. Orang-orang dengan sadar mengklik judul tulisan yang mereka tertarik, membaca nya sampai habis bila memang ingin mereka ketahui, kalau enggak mau tau, ya simple back to home atau close tab.

Gue ingin blogging seumur hidup gue. Gue ingin berbagi seumur hidup gue. Gue ingin belajar seumur hidup gue. Meskipun tujuan hidup gue (sebagaimana kepercayaan yang gue anut) adalah untuk ibadah, setidaknya berbagi sesuatu menurut gue adalah salah satu ibadah bila memang apa yang dibagikan tersebut bermanfaat. Dan akan menjadi jariyah bila sesuatu tersebut terus mengalir ke orang lain.

Gue bukan seorang hamba adsense, bahkan produk Google pun hanya menggunakan Gmail, no GDrive, dll. Google merupakan perusahaan mesin pencari, dan jantung nya Google ada di informasi; data. iklan. Gue bukan membenci Google, tapi ads and selling information is not my business. Dan iklan pastinya beda dengan sponsorship, right?

Untuk blogging for living tanpa iklan tentu sangat sulit. Sebenernya enggak terlalu sulit sih, menjadi sangat sulit kalau kita orang nya rakus. Rakus dengan duit, rata-rata orang Indonesia harga Cost-per-click nya $0,04-$0,05. 100 orang yang klik aja udah tembus Rp. 710,462-an. Belum kalau orang-orang yang nulis blog khusus untuk audience luar, bisa tembus $1 per-klik.

Tapi sekali lagi, ads and selling information is not my business. But I need something for living. Untuk sekarang masih enjoy menjadi full-time Software Engineer, bahkan belum pernah kepikiran ingin menjadi full-time blogger. Karena hidup gue enggak selalu berfikir dan membagikan nya tiap waktu, kan? (masa gue kefikiran mau beres-beres kamar gue bagikan disini?). Jadi, gue kerja sebagai Software Engineer, dapet gaji, separuh gaji nya buat bayar server agar blog ini tetap hidup.

Dan seperti yang kalian tau (kalau kalian pembaca tulisan gue udah lama), sesuatu yang udah gue keluarkan, gimana cara nya harus menjadi sesuatu yang bisa menjadi masukan. Every outcome must become income. And fyi income is not always money. Tapi gue ada ide untuk ini. Uang enggak bakal dibawa mati, tapi kita sekarang masih hidup, kan?

Jadi, bagi lo yang blogging, let me know and give me your blog name, url, and your blog category in comment. Gue ingin membuat seperti blogging network gitu, and I hope you will love it. If you know someone who is blogging too, let me know too. Or refer them to read this. Dan semua ini enggak bakal ada kaitan nya dengan iklan.

I will blogging for living, but my full-time job will be dedicated for writing software. You don't need to become fulltime blogger for writing on blog.

Yours truly,

Fariz.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.