Burnout & Zen sebagai Programmer

Tulisan ini lebih asik dibaca sambil dengerin lagu Delusi nya Skastra.

Just skip kalau enggak bisa baca sambil dengerin lagu.

Lo seorang programmer. Atau developer, you name it. Ada suatu kondisi yang dinamakan "Burnout", jika kalian belum pernah merasakan, congrats. Jika tidak yakin pernah merasakan/belum, continue to read.

Let me introduce you my daily basis in office. Jam kantor di tempat gue sama seperti di tempat-tempat lain, 8 jam. Typically, dari jam 09.00 s/d 17.00. Karena gue kerja di sebuah starap, dan starap biasanya punya kultur tersendiri, dan salah satu nya "flexible hours", maka gue kerja biasanya dari jam 1 siangan. Kalau lagi hoki bangun pagi, dari jam 9 pasti produktif kesana nya.

Kerja 'benar-benar fokus' paling cuma 3 jam-an, selain karena dengan 3 jam bisa banyak resolve Jira Issues, juga karena boring. Gue jarang banget 'over-worked' disini, kalau gue kerja dari jam 1 malem sampai shubuh, biasanya karena tidur bangun nya jam 5an sore (true story, seringnya). Entah karena malem nya abis nongkrong, atau nge-game. Don't tell my boss, even they would not scold me haha.

Dari beban kerja juga enggak terlalu berat, karena salah satu nya, ehm, gue ahli di bidang tersebut. Gaji sepadan untuk mahasiswa seperti gue–at least for now–bisa beli hp baru tiap bulan laa :)) dan juga lingkungan kerja yang semau gue. Gue hard-smoker, untungnya kerja disini, gue bisa memilih untuk tidak bekerja di (open) workdesk. So boring, cuma ngopi sama ngemil doang ma.

Kebayang lah ya, karena gue menulis tentang ini, pasti ada sesuatu yang terjadi kepada gue. Let's dive in.

Apa yang menyebabkan seorang programmer burnout?

Typically, bukan hanya untuk 'programmer'. Ada beberapa hal yang menyebabkan 'kita' burnout, seperti:

  • Mengerjakan task yang sama lagi, lagi, dan lagi. Bulan-ke-bulan, tahun-ke-tahun, masih weh ngurusin frontend <insert_the_product_here>. Tanpa break.
  • Bekerja ngejar deadline. We are startup. We are growing so fast. We have roadmap. We have milestone.
  • Bekerja terlalu larut. Bukan "sampe kerja malem" (I'm night-owl person), tapi karena kerja nya kelamaan (noob, ya?)
  • Self-care.
  • Udah bosen sama kerjaan. Ga bikin semangat, gak ada tantangan, dll.

Dan akhirnya kita stress. Ada hal lain yang bisa menyebabkan burnout, seperti masalah fisik (duduk terosss ngeliatin layar laptop enggak sehat, kan?), udah gitu sambil ngopi, udud, hadeh.

Bisa juga karena kehilangan fokus. Gue disini kan sebagai, ehm, lead. Make sure kerjaan yg dihandle orang lain. Belum lagi ada project lain (dan salah satunya sebagai seseorang yang memberikan dedicated support) di produk kita yang mana kerjaan ini enggak kelar-kelar, plussss.... Sebelumnya nge-handle (dan maintenance, obviously) dengan client yang berbeda. Ngehandle kerjaan mah gampang, kelarin fitur2 & bug2 gak bakal sampe 8 jam. Yang susah itu fokus nya.

FOKUS NYA.

SAYA ULANGI SEKALI LAGI WAHAI PEMIRSA: FOKUS NYA.

Terus bingung mau mulai darimana. Terus keinget masalah pribadi (your gf, your college, your friend), frustasi kita.

tar gue bikin mie dulu, laper.

ok lanjut.

Dari 5 daftar tersebut, yang terjadi pada gue adalah ada pada daftar: 1, 4, dan 5. Gue bukan tipe orang yang ngejar deadline, lebih mementingkan kualitas daripada mobilitas (kalau ada bug di prod, biasanya belum di test di local, karena 'ada alasan' yang menyebabkan tidak bisa dilakukan nya tersebut), tapi gue orang nya punya target.

Ketika gue bilang bisa ngelarin ini dalam X hari, maka gue usahain bisa. Kalau enggak bisa, yaa gue udah ngelakuin yang terbaik. Asal alasan nya jelas, karena gue bisa nge-targetin kapan harus selesainya tersebut.

Bekerja terlalu juga gue enggak, karena gue kerja nya malem. Kalau siang udah bangun, paling bales-bales chat di telegram, nge-outline apa yang mau gue kerjain tar malem, baca-baca, pas udah masuk 'waktu jam kerja gue', I'm ready to work.

Sekarang mari kita ke point 1, 4, dan 5.

Mengerjakan tugas yang sama

Bukan berarti ngerjain halaman login ber-bulan bulan tanpa jeda. Tapi lebih ke yang lebih luas. Dalam dunia kerja memang ini wajar sih, yang enggak wajar nya cuma di 'tanpa break' nya ini.

Padahal kalian bisa nentuin kapan harus break. Sayangnya terkadang penentuan ini berdasarkan keputusan PM juga. Gue mengatasi hal ini dengan melakukan tugas lain (masih dalam scope kantor, tapi "enggak official"). Prinsip gue, selama enggak ngeganggu produk utama, bisnis, dan jam kantor, dan ada timbal balik positif nya, why not?

Seperti sekarang, gue lagi membuat SDK untuk KelasKita. Why? It increase productivity, it make easier to communication with application, it easy to maintain, dan "Single source of truth".

Atau menyusun kelas premium di KelasKita, selagi masih dalam koridor prinsip gue tersebut, why not?

Self Care

Duh gimana ya. Gue kasih tau dulu nih, semua engineer disini udah pada ber-istri. Tinggal designer & bizdev. Itupun cewek. Yang paling muda disini adalah gue, rentan antara 5 tahun. Itupun masih kuliah, masih anak muda.

I do everything wtf I want, enggak mikirin 'istri', 'pacar', 'dapur ngebul', 'cicilan', 'anak', dll. Gebetan punya lah, di 4 kota haha; Kalau lagi pengen, ada mantan yang always welcome. Pengen beli ini, itu, selagi duit nya ada, yaa beli. Pengen kemana-mana, kalau mau, yaa berangkat. Tanpa larangan dari A/B/C, kalau menyangkut urusan kantor (misal pen kerja remote dari jogja), just tell PM.

Karena 'bebas' ini gue merasa enggak peduli. Mulai peduli ketika sudah masuk ke batas. Peduli ke kesehatan, ketika sakit. Peduli ke keuangan, ketika mulai menipis. Dll.

Perawatan diri juga apaansi. Gue enggak diet, hari ini makan mie kalau besok pengen makan mie lagi, yaa do it. Ngopi sehari 3 gelas? idc. Ngudud sehari 2 bungkus? Klo punya duit ya beli. Kalau enggak? Ya minta hehe.

Ini yang paling susah, di umur 21 ini enggak mungkin lah ya gebetan nanya 'kamu udah makan belum? makan dulu gih, biar kerja nya fokus. Biar enggak akiit'. Moal. Kecuali mantan yg di jkt, masi sma. Itupun sudah lost contact (curcol bos)

Solusi gue? Berkomunikasi dengan orang tua. Orang tua enggak peduli umur lo berapa, mereka akan selalu menganggap diri lo sebagai anak. Biasanya gue trigger, misal gue nanya dulu "Sehat, mah?", nah pasti nanya balik kan, baru gue jawab misal 'rada pusing' beserta alasan yang membuat ortu enggak khawatir (anak rantau gan). Yang penting gue dapet nasihat.

Dan gue mendengarkan nasihat orang tua, kalau nasihat orang lain kan pasti kita punya hak untuk tidak mendengarkan, tapi kalau dari orang tua? Mikir lagi gan.

Udah bosen sama kerjaan

Haha ini, apalagi katanya karakteristik milenial. Karena gue merasa misi gue disini belum selesai, jadi gue belum ada niatan buat keluar. Apalagi keluar klo cuma pen buat starapan-starapan.

Tiap hari ngoding javascript bosen gan. SUPER BOSEEEEEEN. VSCode kalau bisa ngomong, gue yakin dia bakal bilang "YEE LU LAGI, NGODING JAVASCRIPT LAGI, MAN?". Gue merasa enggak dapet tantangan, kerjaan banyak bukan tantangan ya, itu mah beban. Karena disini (seperti beberapa starap lain) kita ini diberi tanggung jawab penuh atas kerjaan yang kita kerjaan (do wtf u want), jadi gue mencari sesuatu yang bikin gue tertantang.

delete database prod contohnya

boong deng. Yaa misal gue setting CI sendiri, meski background gue anak frontend. Nulis test, meskipun gak pernah dipaksa buat nulis test (terlebih gue belum berpengalaman nulis test di js), dll. Gue mencoba melakukan apa yang gue hindari. Dan pastinya harus menarik. Dan gue bakal excited karena mempelajari hal baru. Terkait kerjaan.

Kemaren-kemaren bikin changelog. Gue selalu menghindari nulis changelog, selain karena capek, juga karena males haha. Karena gue merasa ini penting, jadi biar anak qa dan pm enggak nanyain commit ini update apa riz? (biasanya di JIRA gue copas output git commit haha), jadi bisa dengan ngasih tau: liat aja di changelog. Win-win.

Zen

Tetap tenang. Fokus. Ada beberapa hal yang gue pelajari dari Design Philosophies nya Django. Salah satunya adalah: Loose coupling (Sedikit ketergantungan). Sedikit ketergantungan membuat hidup kita lebih nyaman, dan sedikit bukan berarti tidak sama sekali. Jika bisa dilakukan sendiri, why not?

Ada juga hal yang gue pelajari dari Unix Philosphy, do one thing and do it well alias FOKUS.

Ada 10 aturan untuk menerapkan "Zen" sebagai programmer, yakni:

  1. Fokus
  2. Bersihkan fikiran
  3. Berfikir seperti pemula
  4. Jangan egois
  5. Enggak ada career goals. Jangan pansos
  6. Jangan banyak bacod
  7. Berfikir jernih. Peduli. Hati-hati
  8. There is no boss. Lu adalah boss yang sebenarnya
  9. Lakukan sesuatu yang lain
  10. Enggak ada yang spesial

Detailnya silahkan baca disini. Lakukan yang terbaik.

Beberapa tulisan yang sangat bermanfaat untuk dibaca:

Sponsor:

Guys kita bikin grup kecil-kecilan di IRC, ngebahas masalah coding dari yang paling fundamental, sampai ke higher-level. Join di server irc.foonetic.net dengan nama channel #undefined. Don't be shy to join, anyone welcome from any level.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.