filosofikode.me

Goodbye VSCode

December 08, 2018 • ☕️ 3 min read

Gue seorang pengguna VSCode garis keras. VSCode benar-benar software yang sangat sempurna untuk seorang Frontend Developer seperti gue. Dari sisi arsitektur, Developer Experience, Ekosistem, VSCode juara meskipun dibuat diatas teknologi Web.

VSCode menghilangkan masalah-masalah higher-level yang biasanya sering terjadi kepada developer pemula seperti gue. Contoh: Git.

Git merupakan VCS paling mudah digunakan oleh pemula seperti gue. Dari basic add, commit, pull, push; Sampai ke yang lumayan ribet seperti rebase, merge, checkout, dll. Dengan VSCode, kita bisa menghilangkan keribetan-keribetan tersebut. Just done it with GUI.

Lalu, juga ekstensi-ekstensi pembantu yang sangaaaaat membantu. Emmet, Vetur, Syntax Highlighter, Code Auto-Completer, whatever. Bikin gue sangat betah menggunakan VSCode, dan plus: integrated terminal.

Terlebih ukuran nya yang paling ramping dari editor lain yang dibuat diatas teknologi web juga: Atom, Brackets, dan Oni, VSCode adalah juaranya! Hampir terasa seperti aplikasi native ketimbang sebuah Webapp.

Dan gue, malah meninggalkan VSCode. Pertama, karena fitur-fitur VSCode juga sudah tersedia di Vim gue, juga karena ingin menguasai sesuatu yang sudah bisa di handle oleh VSCode. Kalian pasti pernah merasakan ribet nya sebuah Git Conflict di codebase yang besar, dengan VSCode, masalah tersebut sudah tidak menjadi sesuatu yang besar lagi, karena bisa dengan gampang kita selesaikan.

Juga, gue ingin memaksimalkan penggunaan mouse. Hampir sekarang gue jarang banget menggunakan mouse, atau lebih tepatnya Touchpad. Banyak proses yang bisa dilakukan tanpa touchpad. Jadi, enggak perlu mengarahkan jari kita ke touchpad, karena sudah banyak yang bisa dilakukan di keyboard. Just focus to keyboard.

Biasanya, gue sibuk nge-fold code, atau ngescroll, dll di VSCode. Entah karena iseng, atau emang bener-bener butuh melakukan itu. Semenjak menggunakan Vim, gue jadi jarang banget nge-scroll (via touchpad). Jadi gue bisa dengan hati-hati membaca satu persatu kode yang pernah gue tulis. Jika sekiranya sedang mencari sesuatu, tinggal cari menggunakan /<keyword>, selesai! Ada error? Tinggal loncat ke baris kode error tersebut dengan <nomor> gg.

File Explorer? Sudah ada NerdTree! Quick-open file? Ada ctrl-p. Sebenarnya sudah lengkap, bahkan untuk keperluan vcs pun gue sudah ada Tagbar dan GitGutter. Ada satu andalan fitur di VSCode yang belum gue temuin, khususnya untuk Refactoring: Command+D (Seleksi multiple keyword yang sama). Tapi gue punya solusi, misalnya dengan menggunakan perintah:

:%s/<keyword_yang_ingin_dicari>/<keyword_baru_pengganti>/g

Kalau lagi pengen lebih hati-hati, bisa tambahkan c setelah g, untuk meng-confirm perubahan terlebih dahulu. Apalagi ya yang belum ada?

Syntax Highlighter? Ada. Ah iya, Emmet! Meskipun ada, tapi gue enggak install plugin nya. Karena jarang banget nulis div.nama-kelas#nama-id [tab]. Seringnya langsung tulis biasa aja.

Apakah lebih efektif menggunakan Vim? Lebih produktif? Enggak juga. Tapi gue merasa bisa lebih fokus. Tapi banyak yang bisa gue pelajari disini, enggak hanya mengandalkan sebuah magic. Seperti basic regex, operasional git, dll.

Dengan dihapusnya VSCode (berat banget ini pas kemarin-kemarin), gue terpaksa harus menggunakan Vim, dan harus benar-benar menguasai penggunaan Vim, dan paling minimal, bisa seproduktif ketika gue menggunakan VSCode (atau lebih produktif, tanpa ekstensi). Gue bisa menggunakan Vim dimana saja (HP, Laptop, Server, dll yang penting ada terminal!), dan ketika sedang tidak bisa menggunakan editor ini, jadi gue enggak perlu bergantung dengan editor itu. Vim sangat cross-platform, karena setiap sistem operasi pasti ada terminal. Sedangkan VSCode, berada diatas Chromium. Cross-platform: Iya, tapi cross-compatiblity: No. Andai bisa koding pakai VSCode di iPad, gue mungkin (6.66%) akan pindah lagi ke VSCode hahaha.

Oke sekian, mau dibikinin tulisan Apa yang bisa dilakukan di VSCode juga bisa dilakukan di Vim? Sayangnya, gue sudah berjanji untuk tidak akan pernah menulis “teknikal” di filosofikode.me. Jadi, mungkin di blog lain nya. Hmm… https://rebase.evilfactory.id kali ya?


Fariz Rizaldy

Personal blog by Fariz Rizaldy.
Now Page About Fariz