Gue enggak akan bikin Curriculum Vitae (lagi)

The background

Setahun yang lalu, gue melihat postingan di LINE tentang Job Vacancy Frontend Developer di sebuah startup pendidikan di Bandung, dan dengan memberanikan diri gue melamar (bukan 'mencoba' melamar) dengan mengirimkan email ke contact person yang tertera disana.

Karena pas freelancing dan remote working gue sering bikin cover letter untuk setiap pekerjaan yang mau gue ambil, jadi menulis cover letter ke tim startup ini bukan sesuatu yang bikin gue grogi. Gue menulisnya pun dengan bahasa Inggris, karena job posting nya menggunakan bahasa Inggris. Dan gue udah terbiasa menulis cover letter menggunakan bahasa Inggris.

Disitu harus melampirkan portfolio, gue udah sering melampirkan portfolio pas ambil project ketika freelancing. Jadi bahan nya sudah ada, dan harus melampirkan cv/resume.

what?

bahkan gue belum lulus dari perkuliahan, dan belum pernah menulis resume/cv sama sekali. Karena kalau melampirkan CV nya gue arahin ke akun Linkedin gue gue rasa kurang sopan, so gue bikin resume yang digenerate berdasarkan akun Github (Sorry, tim! :D) gue menggunakan ini. Terus wawancara, dan Senin nya langsung bisa kerja meski probation. Dan sekarang udah enggak probation.


Tipikal perusahaan di Indonesia, untuk pelamar yang ingin bekerja di perusahaan mereka, maka pelamar/kandidat harus mengirim portfolio & CV. Dan ini bukan masalah, suka-suka yang punya perusahaan dong.

Terakhir dikontek rekruiter gue mau ditarik ke ecommerce unicorn di Indonesia, dengan posisi UI Engineer. Dan hey, perusahaan dan posisi ini merupakan hal yang gue dambakan dulu.

Syaratnya adalah mengirim CV dan portfolio gue ke mereka, kalo diterima oleh perusahaan, baru gue bisa kerja di perusahaan tersebut. Disini win-to-win sebenernya, gue enggak usah ribet ngirim cv/portfolio ke perusahaan tersebut secara langsung, karena udah diurus sama recruiter. Kebetulan recruiter nya juga udah terkenal (dan terkenal rekomendasiin talent yang reliable), jadi kemungkinan lolos sekitar 51%. Kalo gue lolos, gue kerja di perusahaan tersebut, dan recruiter dapet $$$ karena udah rekomendasiin gue.

enak ya jadi recruiter? kagak. sulit, you know~


Dan ya Allah bikin CV/resume ini gue males banget dah. Enggak tau males nya kenapa, tapi kalau lu ngeraasain hal yang gue rasain pasti ngerti. gimana ya.

lu nulis biodata, pengalaman kerja, skill yang lo kuasai, dll. Disitu lu bertanggung jawab dengan apa yang udah lu tulis, terlebih kalau nulis seperti "JavaScript: 80%", yang mana nilai 80% ini adalah nilai yang lu berikan sendiri untuk diri lu sendiri.

Dan ternyata.... Kalau orang lain menilai skill JavaScript lu ternyata belum pantes dinilai 80%, gimana? Mungkin lu dan orang lain biasa aja, setiap orang membuat kesalahan dan harus memperbaiki nya. Kalau gue? Gue harus mempertanggung jawabkan, dan mau enggak mau harus sampai 80%.

Menjadi sebuah motivasi agar bisa mencapai nya? No, man. Emang lu tau 80% itu seukuran apa?

Hidup gue memang terlalu ribet, karena hidup sebenernya memang ribet. Bawa santai aja, tapi pasti. Gue enggak pernah menulis "Skill: JavaScript 80%", paling: "I'm good with JavaScript and am writing it with ES6. Or ES7, even ES8". Orang yang ngerti, pasti bisa memperkiraan pengetahuan gue tentang JavaScript udah sampai mana.


Dan mulai bulan ini, gue enggak menulis CV/resume lagi. Kalau portfolio mah keharusan, penentuan keproduktifitasan gue dan biar apa yang gue tau ini bukan omong kosong belaka.

Apa yang gue lakukan (selain memperbanyak portfolio)?

Teknikal atau bukan, yang penting orang tau gimana cara berfikir gue, dan ini menurut gue lumayan penting. kadang ada perusahaan/startup yang mencari talent yang "sepemikiran" atau "sevisi" dengan perusahaan mereka

Terus belajar

Gue percaya dengan kutipan Steve Jobs tentang "Stay Hungry, stay foolish". Kondisi lapar membuat kita terus bekerja, agar bisa makan. Dan kondisi bodoh membuat kita terus belajar. Jangan pernah berhenti bekerja karena merasa sudah kenyang, dan jangan pernah berhenti belajar karena merasa sudah pintar.

Bahkan Bill Gates yang sudah beunghar dan bau tanah pun, sampai hari ini masih bekerja. Meskipun pekerjaan nya adalah 'membantu orang lain' dengan menjadi filantropis, tapi bekerja tetaplah bekerja.

Dan jangan lupa bagikan tentang apa yang telah lu pelajari, biar bermanfaat untuk orang lain.

Buat sesuatu, atau berkontribusi.

Karena gue seorang Developer, Github menjadi tempat yang pas untuk gue. Buat sesuatu, kalau bingung mau buat apa, berkontribusi. Lu liat library/app yang menurut lu butuh peningkatkan? Bikin issues. Nemu bug? Bikin issues. Mereka setuju dan membutuhkan perbaikan? Bikin pull request.

Kalau enggak dapet, jelajahi issues yang ada. Yang lu bisa perbaiki, buat pull request.

Kalau belum berani berkontribusi, buat sesuatu. Dan biarkan orang lain melihat, mereview, dan mencoba kode yang lu tulis. Be social, and don't be toxic on community.

Mungkin designer bisa showcase apa yang mereka desain via Dribbble/Behance. Penulis bisa via Medium. Indahnya menjadi pekerja kreatif.


Keputusan ini sedikit egois, mungkin yang pembaca nilai "anjir sok amat ni orang". Itu pilihan anda, dan ini pilihan saya. Dengan ini saya harus tetap belajar agar bisa menuju tak terbatas dan melampaui nya, dan terus berkarya agar orang lain bisa menilai saya.

Bagaimana bila pilihan yang saya ambil ini ternyata salah? Tidak ada satupun yang mau meng-hire saya? Tidak ada yang ingin menghire seseorang bila seseorang tersebut tidak mau melampirkan/membuat CV? Setidaknya saya sudah belajar banyak. Dan berbuat banyak.

Dan dari situ saya bisa membuat pilihan untuk apakah saya seharus nya mulai meng-hire orang lain, yang kebetulan menggunakan cara yang sama seperti yang saya lakukan?.

Hidup ini tentang pilihan, dan ini pilihan gue.

Kalau recruiter/hrd/level-c baca ini, dan tertarik untuk hire gue, sorry, I will not write/attach CV for you. Kalau setuju, let's talk about your vision!

Gue masih muda, sayang kalau belum merasakan kegagalan. Terlebih kegagalan atas sesuatu yang udah gue buat. Mari belajar, ber-kontribusi, dan berbagi atas apa yang sudah kita pelajari.

"I think, therefore I am"

"I blog, therefore I am"

"I active on community, therefore I am"

Sekian, ditulis pas rangorang sedang tarawih, dan gue sedang geuring. Terinspirasi menulis ini karena dapet reminder tentang email ini:

2018-05-17_20-39-52

Dear all tech recruiter, if you don't looking any talent based on their Github profile & activity, you should do.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.