I hate big data, AI, ML, everything

so fuck you.

Pada zaman dahulu kala, ada seseorang yang membuat decision yang disetir karena intuisi, karena instinct. Segala keputusan yang dia ambil, berdasarkan oleh apa yang dia intuisikan. People will love it, people will use it, dan lain-lain. Bahkan orang ini sampai di cap 'Reality distortion field'. dan yeah, orang tersebut bernama Steve Jobs.

Keputusan yang diambil Steve Jobs kadang berhasil, kadang gagal. Mungkin yang berhasil karena keberuntungan. Maka dari itu, agar mengambil keputusan tidak sesuai intuisi (alias menggunakan akal sehat), sekarang orang-orang mengambil keputusan yang di dorong dengan data. Alias berdasarkan data. alias data-driven.

berdasarkan data, orang-orang banyak yang klik tombol ini dari pada ini

berdasarkan data orang tersebut, kita rekomendasikan produk ini, karena orang ini pernah buka produk ini di tempat lain

berdasarkan data, orang-orang banyak yang beli di hari senin daripada hari sabtu.

berdasarkan data, aku sayang kamu tapi kamu nya enggak sayang aku

Dan berbagai berdasarkan data lain nya.

Tidak ada yang salah dengan data, right? Gue baru mengerti "menjual informasi" yang sesungguhnya, yang mereka-mereka orang luar sering promosikan "we will never sell your information". This is my thought


Gue buka situs ecommerce terkenal di Indonesia, mengetik kata kunci "Qur'an" di kolom pencarian nya, lalu ditampilkan produk-produk yang sesuai dengan kata kunci. Tentu gue happy, karena produk yang muncul sesuai dengan apa yang gue mau, kan? Bukan segoblok query "SELECT * FROM whatever WHERE title LIKE '%keyword%'". Masa mau munculin buku dengan judul "Berobat dengan Qur'an". Meski rasional, but not my main purpose.

Ketika ditampilkan hasil pencarian, list produk yang pertama kali dilihat adalah dari "Promoted". Mungkin orang-orang lain enggak sadar, tapi enggak buat gue. But this is not my big problem, because "ads" were they business.

Pokoknya suuzon gue kalau sebuah produk tersebut "gratis", berarti bisnis nya ada di iklan. There is no free lunch, eh free product.

Dan beberapa hari kemudian, gue dapet email marketing. Dari orang random, yang bahkan toko nya enggak pernah gue kunjungi, yang intinya dia menawarkan produk "tentang" kata kunci yang sebelumnya gue cari.

oke enough, untung gue enggak cari "g-string".

Dan bayangin ketika mengambil keputusan enggak data-driven, tiba-tiba gue dikirim email marketing produk knalpot motor. Lah anying kenapa gue dikirim email ginian? motor aja enggak punya, nyari aja enggak, ujug-ujug ditawarin knalpot?

The big data

Kita fokus ke produk yang sumber penghasilan nya dari iklan aja terlebih dahulu. Ini ketika gue mencari di Google dengan kata kunci "SendGrid"

2018-05-25_00-11-02

Dan yang muncul paling atas adalah Sendinblue. Dan gue penasaran kenapa gue ngelihat iklan, dan...

2018-05-25_00-17-06

come on man, gue nyari SendGrid bukan Sendinblue. Coba bayangin kalau gue tau Sendgrid dari temen (mouth-to-mouth), terus pengen nyari website sendgrid dari google (karena kalau langsung .com/.io/.co takutnya malah situs palsu/phising walau enggak mungkin sih haha), dan yang muncul paling atas adalah Sendinblue. Karena dikasih tau nya "sendgrid gratisnya cuma sebulan, riz. Tapi enaknya gampang di pake" dan ngeliat iklan tersebut "Keep your free plan", yaa hati manusia pasti penasaran dong buat klik, dan ingin compare.

Apakah ini data-driven? Absolutely. Bayangin kalau gue cari sendinblue, yang keluar malah pornhub. lah kan enggak nyambung. ya iya lah riz, kan advertiser narget kata kunci "sendgrid", mangkanya muncul iklan itu. Dan bukankah itu data? Bahkan kalau gue cari nya "Sendinblue vs Sendgrid", yang muncul iklan nya si sendinblue jugaak.

The case of Big Data

Biasanya ada di "Relevansi", di "Rekomendasi". That's why we teach machine, right? Ada rekomendasi "Karena kamu sebelumnya melihat/membaca ini", "Karena minat kamu Software Engineer", "Karena kamu tinggal di Indonesia". Mesin harus mempelajari dari banyak nya data yang dia terima, lalu mengolah nya, dan menampilkan hasil olahan tersebut. berdasarkan data. bukan berdasarkan random query

Yang gue tau, rekomendasi dibutuhkan oleh manusia hanya ketika memang butuh. Mungkin seperti "Ke toko pengen beli buku JavaScript", tujuan kita memang hanya ingin membeli buku JavaScript. Coba dengan rekomendasi yang sebenernya enggak kita butuhkan, "Ke toko pengen beli buku JavaScript. Disamping rak tentang JavaScript, ada buku tentang HTML. Lalu kita 'di sugestikan' seolah-olah, lu harus beli buku HTML, karena lu pengen beli buku JavaScript.".

Enggak masalah sebenarnya dengan rekomendasi, tapi menurut gue jadi masalah ketika gue memang enggak membutuhkan itu. Tapi bisnis enggak gitu cara nya, riz.

Gue yakin perusahaan yang mengolah data cuma perusahaan yang berkaitan dengan iklan, selebihnya perusahaan yang rakus. Layanan travel ada kok riz yang mengolah data, tapi mereka bukan perusahaan yang berkaitan dengan iklan. Let's see how they process the data, "to improve and increase user experience and user satisfy. They use data to promoting interesting offers and to understanding what they user needs". Sengaja pakai bahasa Inggris, kalau pakai bahasa Indonesia nanti googling, terus ketauan perusahaan apa yang gue obrolin. Disitu ada kata "Promoting interesting offers" alias Mempromosikan promo menarik, dan hey, that's an ads, isn't it?

greedy.

But this is a fate.

Udah nasib hidup di zaman digital. Dan gue pun sudah menyetejui nya, kan? Accept term of services, reading privacy policy, dll. Cara satu-satu nya adalah dengan tidak menggunakan layanan mereka, yang berarti gue hidup di zaman purba. Belanja tanpa ecommerce, pesen tiket kereta langsung ke stasiun, dan atau mesen ojek dengan nanya 'Mang, ojek?', lalu ngasih duit 10rb sambil nuhun dan langsung cabut tanpa nyilek kebelakang ketika dipanggil.

Setidaknya, semua itu gue lakukan berdasarkan keinginan gue. Bukan berdasarkan rekomendasi mereka.

Gue sebenernya enggak benci-benci amat dengan big data, yang gue benci adalah there is no border for our privacy. Tracking what we search, what we visit, what we see, what we curious, what we love, what the fuck! what the hell?. This is internet.

Ada celah niche yang bisa di penetrasi untuk orang-orang yang gila privacy. that's why many VPN services provider, ads & tracker blocker, search engine that doesn't tracks you, and the dark of tor network.

Padahal ada beberapa alternatif untuk mengambil keputusan seperti design-driven: orang-orang melakukan ini karena sudah kita desain nya seperti ini; Atau stevejobs-driven: orang-orang melakukan ini karena asumsi sang pemberi keputusan yakin bakal melakukan ini. Atau mungkin... purpose-driven? Orang-orang melakukan ini yaa karena maksud nya adalah ini.

But I don't know.

Kalau orang-orang enggak pakai data untuk mengambil keputusan, gimana nasib orang-orang yang kerja nya memang untuk mengolah data? Once again, I don't know. Hari ini, orang bisa membuat AI, dan mengajarkan mereka. Mungkin besok-besok, AI sudah bisa membuat AI lainnya, dan belajar sendiri.

BELAJAR DARI DATA YANG DIKUMPULKAN LAAAAH PASTI NYA.

RAKUS. Da udah sifat manusia enggak pernah puas

So, just track everything I search, I visit, I see, I interest, I love, How I interact with your app, my IP, my browser (even with it's fingerprinting), whatever. Do your business. This is internet, so fuck you. I never share that my girlfriend name is ".....", but absolutely you know based-on my browsing history even I stalk her from incognito-mode, right? Now privacy and data is cheap. The expensive ones is your social media account. I hate everything.

btw gue abis buka situs traveloka buat cari tiket ke jogja nih, enggak tertarik buat kasih rekomendasi kalau pakai kompetitor harga nya lebih murah? Wait, do you read this blog post so you know that I will go to jogja by train because I'm searching it's ticket on traveloka? Ingin sekali gue bikin kecoh machine learning dan selalu memberikan data yang salah untuk mereka.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.