I'm out from Frontend Web Development.

Dan gila nya gue menulis Not available for hire.

Udah hampir 4 tahun gue berpengalaman dalam dunia Frontend Web Development. Dan 1 tahun ini resmi memiliki pengalaman di dunia kerja fulltime. Alias sebagai karyawan tetap yang menyambi menjadi Frontend Engineer.

Dan karir gue dalam dunia Frontend Engineer ini terakhir di tempat gue kerja sekarang, di KelasKita. Selama KelasKita masih berdiri, mengedukasi, dan menyampaikan visi nya, gue akan tetap menjadi seorang Frontend Engineer.

Kalau KelasKita selama nya berdiri, berarti gue bakal selama nya menjadi seorang Frontend Engineer. Atau, sampai gue di kick atau sampai posisi gue tergantikan.

Gue udah capek sama dunia JavaScript. I hate JavaScript. Meskipun gue berprinsip ingin memberikan pengalaman pengguna semaksimal mungkin--lewat interaksi, menyajikan halaman yang cepat dimuat, menerapkan Micro UX, dll--tapi yaaaa memberikan itu semua enggak harus selalu lewat web, kan?

Jadi, gue ini benci JavaScript atau Web?

Teuing. Intinya di website ada JavaScript, dan I hate JavaScript. So I hate everything in web with JavaScript.

Dan Frontend Engineer mulai banyak di cari. Tech stack para enterprise mulai pada di upgrade; React, Vue, Angular, Stencil, Svlte, whatever.

Hampir tiap minggu rekruter nawarin jadi Frontend Developer, ya kebetulan kita membutuhkan Frontend Developer yang berpengalaman menggunakan React / Vue. Terus ditanya kisaran gaji, gue jawab diatas 7 juta. Eh si kampret hayang, untung patokan gue dalam menjalani hidup adalah iman bukan uang. So I don't interesting with it.

Website sudah pada menjadi Web Apps, pengalaman yang dirasakan ketika menggunakan software native pun sudah hampir kerasa di dunia per-web-an. PWA, AMP, whatever.

Dan gue capek. Ini dunia Frontend Development ini kalau dikejar seperti mengejar dunia, enggak bakal ada habis nya. Sampai kita bertemu di suatu titik, yang mana pilihan nya ada dua: Memotivasi diri agar terus bisa ngejar dan ber-improvisasi, atau berhenti di titik jenuh.

Dan gue mengalami kejenuhan.

Fuck everything.

I'm not Frontend Engineer. Dan gue mulai berada di titik merendahkan diri. Gue bukan Frontend Engineer, gue bukan UI/UX Designer/Engineer whatever you call it. But that's my passion, right?

Dulu. Sebelum Renaissance of fucking JavaScript.

Now

I'm gambling with my life. Gue udah menutup tawaran dari luar untuk bekerja menjadi seorang Frontend Engineer. Cukup KelasKita menjadi pertama & terakhir karir gue sebagai Frontend Engineer profesional. And I love it.

Tapi saya butuh makan. Menjadi seorang Frontend Engineer membuat saya berada di zona nyaman, karena saya orang nya ideologis. Enggak musingin harus pakai tech stack ini, harus gini, blablabla. I choose blablabla, because blablabla, and all of you are know the result from what I choose, right?

Sooo.... Gue mau survival. Improvisasi skill lain diluar Frontend Development, agar bisa tetap makan dan bisa memberi makan untuk keluarga gue nanti. Gue rasa ini zona non-nyaman gue. Gue akan belajar lebih keras, bekerja lebih giat, dan membuktikan pada diri sendiri bahwa jalan yang gue pilih ini benar.

So, goodbye JavaScript. Your node_modules will always on my .gitignore.

P.S: Kenapa gue kaitkan JavaScript dengan Frontend Web Development? Karena yaa gitu. Beda seperti dulu yang 'term' itu cuma Web Developer & Web Designer. Enggak serudet sekarang. Because technology is always upgrade.

P.S.P.S: Sekarang gue udah menghilangkan title "Frontend & UI Engineer" di hampir semua sosial media gue.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.