Medium dan Misi nya

Gue merupakan seorang anggota Medium sudah lumayan lama, tulisan yang gue publish pertama kali (yang gue liat di tab "Public" gue) diterbitkan pada 13 Februari 2015. 3 Tahun yang lalu, dan berlangganan Medium Membership (sekarang udah enggak) pada 17 Agustus 2017 tahun kemarin.

2018-06-05_18-58-54

Gue senang dengan Medium karena kesederhanaan tampilan dan kemudahan dalam menulis dan menerbitkan tulisan, terlebih visi Medium sama dengan misi gue yaitu menulis konten untuk manusia, bukan untuk advertiser.

2018-06-05_19-01-17

Sejauh ini masih suka nulis di Medium, dan gue menyatakan terakhir menulis di Medium pada tulisan ini yang berjudul I want to start writing testing. Selama menggunakan Medium enggak ada masalah, terlebih statistik yang adapun lumayan.

Tapi ada beberapa hal yang mengganjal dalam fikiran gue. Medium ini sebenernya udah sempurna, tempat kita membangun audience & fans atas tulisan yang kita terbitkan; Mengapresiasi tulisan yang kita publish dengan "Clap", dan ada kolom response bila ada seseorang yang tidak setuju/ada pertanyaan/masukan.

Tanpa harus ribet setting server, maintenance server, dll. Just write.

Medium is not for everyone, at least not for me.

Belajar, berkontribusi, dan berbagi adalah passion gue. That's why I join KelasKita team yang memiliki tagline Learn, Contribute and Share. Sejauh ini gue cuma bisa berbagi via tulisan untuk berbentuk digital, sisanya gue lakukan di dunia nyata.

Melakukan sesuatu berdasarkan passion sangat menyenangkan, salah satu nya membuat tampilan yang digunakan oleh beratus-ribu pengunjung setiap hari nya. Dan berbagi pun sangat menyenangkan, merasa terbantu oleh tulisan yang gue tulis membuat gue semakin semangat dalam menulis. Banyak nya yang DM Twitter & Telegram, dilanjutkan dengan berbagi fikiran dengan mereka, dll.

Banyak orang hebat yang gue kenal di internet, khususnya dari Medium. Dev-rel Google, ex-backend & Frontend Bukalapak, UX engineer Grab, founder startup yang sudah diakuisisi (orang luar), sampai ke penggiat Open Source yang project nya banyak dipakai oleh orang.

Medium mempermudah penerbitan dalam bentuk tulisan untuk orang-orang yang ingin membagikan fikiran nya, dan mempermudah berkoneksi dengan orang-orang berdasarkan minat. But at least not me. for now.

That's why I have my own blog, my own place for publish what I write.

Lo googling tentang sesuatu, khususnya tentang Software Development. Pasti di halaman pertama Google yang muncul adalah tulisan di Medium, keren kan SEO nya? Lo enggak perlu setting SEO ribet-ribet.

Tapi gue seorang Software Developer, Software Engineer. Medium menurut gue bukan tempat untuk berbagi tulisan teknikal, meski support tag <code> via Markdown. Gue sering merasa kesulitan membaca kode seperti ini di Medium:

Daripada seperti ini

describe('user search with autocomplete feature', () => {
  
  it('should request to server after user stop typing', () => {
    // code
  })
  it('should display search result while backend give response data', () => {
    // code
  })
  it('should go to page that user want while user click the link from search result', () => {
    // code
  })
})

Ya, kita enggak bisa bebas melakukan kustomisasi dan control atas apa yang kita terbitkan. And that's fine karena pengalaman menulis dan membaca di Medium udah bagus banget.

At least, not for me.

Getting paid

Medium sadar, setiap orang membutuhkan sesuatu untuk hidup. Sumber pemasukan untuk orang-orang yang bergerak di bisnis internet, khususnya di penerbitan tulisan adalah iklan.

Tapi Medium didesain bukan untuk menampilkan iklan. Mereka tau baik-buruk nya dunia per-iklanan.

Lalu Medium pun memberikan solusi: Membership. Bagi pembaca, bisa membantu penulis dengan menjadi Member di Medium, dan penulis akan mendapatkan 'reward' berdasarkan algoritma yang sudah mereka rancang.

Dan penulis termotivasi dan bisa terus menulis tulisan yang bermanfaat untuk pembaca mereka.

Medium win, penulis win, pembaca win. Sungguh indah model bisnis seperti ini.

At least, not for me.

Medium menggunakan Stripe sebagai payment processor nya, dan I love Stripe. Selain desain nya yang selalu bikin nyaman mata, kesederhanaan-API-but-powerful nya yang mudah digunakan, dan developer-focused. Stripe dibuat untuk para developer, yang ingin membangun bisnis di Internet.

Dan as we know, Stripe belum support untuk Indonesia. Andai ada payment processor se-stable Stripe.

Sedangkan prinsip gue untuk sesuatu yang gue keluarkan, harus ada sesuatu yang masuk. Seriously, there is no free lunch. Se-gratis Facebok, Twitter, dan Google pun, ada sesuatu yang kalian bayar. You know it.

Maka dari itu gue lebih suka menulis di blog, setidaknya gue mendapatkan "trafik". Semua tulisan yang gue publish di Medium, baliknya ke Medium lagi. Trafik nya, analitik nya, dan lain-lain nya. It's fair, karena memang gue menggunakan Medium, dan harus setuju dengan Term of Service mereka.

Terlebih sekarang Medium udah enggak support custom domain, ya mau enggak mau harus setuju dengan keputusan mereka.

Dan dari sini gue menemukan "ketidak-bebasan". Tapi gue ngerti, dan memang itu sesuatu yang harus gue terima karena menggunakan platform orang lain. Meski Medium memberikan kita kebebasan untuk kostumisasi dll nya, but at least not-as-freedom-as-I-need. Yeah, at least not for me.


Gue enggak perlu setting analytics ribet-ribet, menyediakan kolom komentar, setting SEO, manage server, kontrol up-and-down time, security, dll nya. Tapi gue rela untuk melakukan itu semua ribet-ribet hanya untuk ditukarkan dengan kebebasan.

Disini, semua nya dalam kontrol gue. Line height, layout, font, dll nya gue atur sesuka gue, distribusi konten pun gue yang ngatur. Nobody can stop me, yang bisa delete tulisan, delete blog, dll nya adalah gue.

Not everyone else, except your blocked with your ISP.

Kesimpulan

Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Kampret kan gue nulis panjang-panjang ternyata kesimpulan nya gini. Tapi gue yakin lu semua dapet point tentang apa yang gue tulis ini.

So please, use Medium if you need it. Dan gue yakin lu enggak bakal pakai Medium lagi ketika lu sadar bahwa Medium bukan solusi dari permasalahan yang lu punya. Everyone has their own problem, and Medium is not my solution.

Spoiler: Medium cocok untuk lo yang mau bikin publikasi sendiri, mau bikin "media" lo sendiri. Tapi ingat, semua yang lu lakukan harus berdasarkan cara main nya Medium, kalau enggak setuju mau enggak mau konten atau bahkan publikasi lu di suspend atau lebih sedih nya di delete oleh Medium. Enggak ada yang salah disini, sama seperti ketika rumah lo di acak-acak oleh orang lain, atau orang lain enggak mengikuti peraturan yang lo buat dirumah lo (contoh: dirumah lu dilarang bawa mantan yang ninggalin pas lagi sayang-sayang nya; pas udah setengah mampus move on malah ngajak balikan–Baca: Anjing) tapi orang tersebut malah enggak mengikuti peraturan nya, yaa mau enggak mau lu usir kan? Walau dengan cara baik-baik.

Kalau mau ada anjing di rumah, yaa lo simpen dirumah lo sendiri aja anjing.


Gue ada sesuatu yang mau gue bagikan khusus tentang ini, tapi materi yang gue punya belum lengkap untuk dibagikan oleh pembaca. Meskipun gue enggak peduli kuantitas yang membaca di blog gue ini ada berapa, tapi gue peduli kualitas orang-orang yang baca yang bukan berdasarkan judul clickbait, terlebih masih setia membaca sampai paragraf ini.

P.S: Bahkan gue bebas untuk menulis kata anjing disini, walau anjing bukanlah sesuatu yang buruk, karena anjing adalah ciptaan tuhan.

Best regards.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.