filosofikode.me

Mencoba menerapkan Gaya Hidup Minimalis

December 04, 2018 • ☕️ 3 min read

Sebenarnya sudah lama ingin menerapkan gaya hidup minimalis ini. Dimulai dari pemangkasan aplikasi-aplikasi yang ada di laptop dan handphone, dan itu berhasil. Lumayan banyak memangkas aplikasi-aplikasi yang memang jarang banget gue pakai, jadi gue hapus. Hampir 80% aplikasi yang ada di laptop gue sekarang tiap hari gue pakai, sisanya adalah aplikasi bawaan Apple.

Dengan memangkas aplikasi-aplikasi yang ada di laptop, selain bisa mengurangi penggunaan disk space gue, juga gue bisa fokus melakukan sesuatu & menguasai sesuatu. Seperti, editor. Dulu gue menggunakan VSCode, Atom, Sublime, Vim, dan Webstorm. Biasanya, beda editor untuk beda project. Gue ‘dulu’ merasa nya akan efektif, agar apa yang akan gue kerjakan nanti bisa fokus. Ngerjain kerjaan kantor? VSCode. Kantor satu lagi? Vim. Personal project? Atom. Kontribusi di OSS? Sublime. Hacking-hacking OSS? Webstorm.

Dan ternyata, ini justru bikin gue enggak fokus. Gue bingung: Buka VSCode dulu, apa Sublime dulu, ya?, dan ini justru malah bikin gue merasa multitasking. Meskipun terlihat seperti ‘Tertata’. Lalu gue coba untuk menghapus editor-editor yang ada, dan gue sisakan VSCode (dan Vim, obviously). Malah bikin gue fokus. VSCode masih gue pakai untuk pembelajaran git, khususnya ketika conflict. Mungkin, kalau udah bener-bener lumayan menguasai Git, akan gue hapus juga.

Lanjut, jadi meskipun banyak project (misalnya), gue ber-asumsi enggak bingung ingin mengerjakan yang mana dulu. Dan jika ada tugas yang belum selesai, gue ‘dituntut’ untuk harus menyelesaikan itu dulu. Misal seperti masih ada window yang terbuka di Vim Workspace gue. Berarti, pekerjaan tersebut harus gue selesaikan dulu sebelum bisa melanjutkan ke pekerjaan lain, enggak peduli urgent nya seperti apa (oke, kecuali critical bug di prod. Dan ini jarang terjadi).

Itu langkah pertama gue untuk menghilangkan sesuatu yang kurang berguna dalam laptop gue, sekarang kita ke handphone gue.

Mobile

Gue punya 2 hp, tbh. Android & iOS. Sebenarnya gue cukup menggunakan aipon aja, tapi karena kebutuhan eksperimen dengan PWA, mau tidak mau gue harus memiliki perangkat android. Setelah berfikir lumayan lama, akhirnya gue bisa mengatur cara untuk memaksimalkan penggunaan kedua handphone tersebut.

Pertama, aipon. Berdasarkan yang gue alami, aipon ini lebih cepat habis baterai nya daripada android gue. Maka dari itu, aplikasi yang ada di aipon gue cuma: Instagram (biar jarang buka ig), Spotify (untuk di-stel dijalan, android gue enggak muat di kantong soalnya), dan berbagai kebutuhan terkait profesional yang bisa hanya menggunakan aplikasi bawaan apple (Mail, Calendar, dll).

Si aipon ini khusus untuk pekerjaan, kecuali Instagram & Spotify. Juga ada Telegram, ini tempat bot gue tinggal. Dan ya, gue ada 2 akun telegram, dan yang di aipon ini khusus untuk laporan bot-bot gue (Trello, Jira, Github, dll)

Android. Di android baru kebutuhan-kebutuhan persoanal, seperti chat (WA & LINE), Twitter Lite, Instapaper, sisanya adalah aplikasi-aplikasi bawaan yang enggak bisa di uninstall & aplikasi PWA untuk eksperimen.

Hal utama yang gue terapkan dari 2 handphone tersebut adalah: Turn Off Notification. Meskipun enggak benar-benar gue turn off. Setiap aplikasi gue bolehin untuk ngirim notifikasi, tapi cuma bunyi aja. Enggak ada spanduk, enggak ada status (baik di lock-screen atau di notification center), dan enggak ada indikator (ini yang paling penting). Tujuan nya adalah untuk mengurangi penggunaan handphone (karena gue sering ter-distraksi oleh handphone!!11!! Dan juga ada ‘tanda’ notifikasi di handphone gue (yang bikin greget untuk membaca nya).

Barang

Ya, barang. Gue punya banyaaak banget barang. Gue selalu ingin agar kamar gue terlihat menarik. Tapi ternyata, bukan itu yang gue butuhkan. Gue cuma butuh kamar yang nyaman digunakan. Yang tenang dihuni, dan membuat gue bahagia. Banyak barang membuat gue merasa ‘ribet’. Buku berceceran, barang kurang tertata rapih, dll. Dan ini bikin kerjaan tambahan gue lagi, dari harus ngeraphin buku, lalu ke barang-barang lain yang terlihat kurang enak dipandang.

Sekarang, di kamar gue cuma ada barang-barang yang benar-benar berguna saja. Buku yang tersisa pun hanya ini:

2018-12-06 13.29.22.jpg

Sisanya udah gue arsipkan, terlebih gue sudah memesan Kindle haha. Buku-buku diatas adalah buku-buku yang sedang gue baca, dan yang akan gue baca lagi.

Apakah membuang (bahasa nya terlalu keradd ya?) barang-barang yang kurang berguna adalah gaya hidup minimalis? Oh, pembahasan tersebut akan gue bahas di tulisan lainnya. Intinya, sekarang; laptop, hp, dan barang-barang yang gue miliki tinggal ‘sesuatu’ yang bener-bener berguna dalam hidup gue. Ada batasan-batasan, kekeliruan, dll seputar hidup minimalis, yang nanti akan gue bahas di tulisan selanjutnya.

Sekarang gue mau mulai kerja dulu (di warkop dulu laah), tinggal masukin laptop, charger, dan keluar. Enggak ada yang harus diberesin, dan enggak ada fikiran-fikiran mengganggu terkait barang gue. Workspace vim gue pun akan kosong setelah gue meng-eksekusi :wq dan yarn deploy.

Thanks for reading this, enjoy the rest of your Thursday everybody!


Fariz Rizaldy

Personal blog by Fariz Rizaldy.
Now PageAbout Fariz