Menulis CV: enggak berguna buat lo

Tapi setidak nya berguna untuk Recruiter dan HRD.

'Lo' disini mengarah ke background rata-rata pembaca blog gue: Developer. Mungkin bisa berlaku juga untuk para designer & writer. So, keep read.

CV atau Curriculum Vitae atau biodata versi profesional merupakan hal yang sangat penting untuk bekerja. Untuk bisa melamar pekerjaan, kita harus tau mengirim terlebih dahulu CV kita: Tentang kita, riwayat kita, pengalaman, pekerjaan (sebelum nya), keahlian, dll.

How boring is that, right?

Terlebih kasian para HRD yang mungkin menerima banyak pelamar yang ingin bekerja di perusahaan tersebut, mengecek satu-satu CV yang masuk. Bagaimana bisa seseorang bisa dinilai "tentang diri nya" hanya dalam beberapa menit, dengan membaca berbagai kolom yang diberikan? Oke mungkin ini ada ilmu nya, terlebih gue enggak tau apa-apa, tapi gue ngerasa lucu kalau emang dinilai dari CV.

Gue bisa buat fake skill, fake work experience, dll. Portfolio pun bisa nyolong dari karya orang lain, kan?

Lalu lanjut ke interview, dan interview hanyalah interview. Mungkin perusahaan gede interview nya ribet, seperti harus pakai whiteboard untuk menulis kode (perusahaan IT). Tapi kebanyakan kan interview yang biasa aja, seperti memastikan apakah yang gue tulis di CV tersebut benar-benar "asli". If I can fake it by writing it, then I can fake it by talking it.

Imagine this, lo nulis di CV bahwa pengalaman lo dalam dunia Frontend Development lebih dari 4 tahun, dengan lo berbagi sesuatu (menulis, membuat tutorial, screencast, membuat library/framework dan lain-lain), selama lebih dari 4 tahun. Sama aja, kan?

Beda. Ketika lo menulis di CV, mungkin HRD/Recruiter akan percaya, terlebih dari pengalaman kerja lo yang sudah dimana-mana. Win-to-win antara lo dan mereka.

Coba dengan berbagi, menulis tentang membuat aplikasi X menggunakan MooTools, sampai menulis tentang membuat aplikasi Y menggunakan React, kalau HRD/Recruiter nya niat, pasti tau pengalaman lo di dunia tersebut udah berapa tahun. Bahkan mereka bisa langsung melihat bagaimana cara lo menulis kode, bagaimana cara problem solving lo, dll nya.

Bukan lo, HRD/Recruiter aja yang win, orang lain pun win. Mereka mendapatkan "sesuatu" dari lo, yang secara singkat hanya didapat oleh hrd, dan secara lengkapnya didapat oleh orang lain. My JavaScript skill is 90%–I don't know where that 90% comes and how to measure it–blablabla. hrd tau wah nih orang yang lagi kita cari nih. Dan gue pun dapet untung karena dia pernah menulis, misalnya tentang Async-await di JavaScript (es2017), dan dari topik yang dibahas oleh dia gue tau skill dia di JavaScript sudah sampai mana.

Semua orang juga gitu kok, pada berbagi.

Obviously, tapi masih ada beberapa (atau banyak?) yang belum seperti itu. Skill yang dia punya, yaa hanya dipendam oleh dia. Sebatas tertulis di CV, hanya dia dan pemeriksa CV yang (mungkin) mendapat keuntungan nya.

Kalau lo tipe orang yang membuat CV dengan sangat bagus, layouting, wording, dll yaudah berguna nya cuma untuk lo dan pembaca CV lo. Kalau lo membagikan sesuatu, skill lo, pengalaman lo (tulisan atau aksi nyata) dll manfaat nya pun bisa dinikmati oleh orang lain.

So, don't wasting time too much for writing your CV.

Gue pun enggak terlalu percaya sama tempat gue kerja sekarang bakal selama nya hire gue, pasti suatu saat gue bakal keluar (di-kan atau meng-kan), tapi sampai hari ini alhamdulillah gue sibuk menulis tentang apa yang gue tau/pelajari, bukan sibuk menulis CV.

Dan yeah, gue enggak punya Linkedin, Instagram, Facebook. So you (recruiter/hrd) only come to me from my writting/contributing.

If you are reading about what I'm writing, you should know how I think, how I solve problem, how my skills, and another 'how' you can got. And obviously, you cannot judge their personality except by talking and see how their do.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.