Menulislah seperti tak ada satupun yang membaca

Karena menulis itu susah.

Sejujurnya, jangan percaya apa yang orang lain katakan. Lo dan orang lain beda, dan lo enggak punya masalah yang sama seperti orang lain. Tapi jika lo percaya dengan orang lain, lo percaya kalau kata orang lain "kopi itu enak" dan lo coba minum kopi karena orang lain, dan ternyata menurut lo "kopi itu memang enak", silahkan lanjutkan membaca tulisan ini.

Gue kalau melakukan sesuatu selalu peduli-setan, maksudnya apapun yang gue lakukan gue enggak peduli apa yang orang lain katakan. Karena orang lain cuma bisa menilai, sedangkan kita yang bersusah payah untuk berfikir sebelum ingin melakukan sesuatu tersebut. Kalau dapet masukan, ya terima. Tapi enggak harus semua masukan dilakukan, karena lo itu bukan dia dan lo bukan melakukan hanya karena dan untuk dia.

Sekarang gue mau membahas tentang menulis. Project menulis gue sebenernya udah banyak banget, rata-rata tentang teknikal. Beda sama blog ini yang membagikan apa yang gue fikirkan, dan enggak bisa di rangkum menjadi 240 huruf. Gue mau menulis sesuatu, anggap buku kecil-kecilan. Nanti gue mulai kalau kantor udah libur, dan gue udah balik ke kampung halaman yang less-distraction, less-internet-connection, dan panas.

Menulis itu berfikir tiga kali

Silahkan percaya atau tidak, yang gue rasa menulis itu berfikir tiga kali. Yang pertama adalah memikirkan pemilihan bahasa/kalimat yang ingin ditulis/diketik, yang kedua adalah memikirkan bagaimana cara apa yang gue tulis ini bisa masuk ke otak pembaca atau tidak, yang ketiga adalah memikirkan kalimat yang akan gue tulis sebelum nya. Misal:

  1. Gue pengen nulis tentang Vue
  2. Vue merupakan JavaScript framework yang dibuat oleh Evan You yang menggunakan konsep Virtual DOM, declarative rendering, dan memiliki bundle-size yang kecil. Terus gue mikir, kayaknya enggak penting siapa itu Evan You, entar malah keganggu fokus pembaca dan buka tab baru untuk Googling siapa itu Evan You, ganti!
  3. Udah gue ngasih perkenalan singkat tentang Vue, gue mau nulis apaan lagi ya?

Gue enggak pernah Outlining sebelum menulis (at least di blog ini), karena di blog ini murni apapun yang lagi gue fikirkan sekarang. Gue nulis aja dulu, baru kalau udah kepikiran ngasih judul–meski tulisan belum kelar ditulis semua–gue kasih judul.

Ada teknik yang bernama Hemingway Mode yang mana lo cuma boleh nulis, dan edit nanti. Gue bukan tipe orang yang gitu, gue kalau nulis yaudah tulis, dan kalau ada yang salah, ya gue benerin. Mikir 3x aja udah capek, apalagi harus mikir lagi (baca ulang tulisan yang udah gue tulis, dan ngebenerin semua yang menurut gue salah setelah membaca nya). Gue bukan Hemingway guys.

Jadi, tulislah apapun yang sedang terlintas di otak lo. Kalau ada yang enggak beres–biasanya gue nemunya ketika gue lagi menulis kalimat selanjutnya–langsung gue hapus, karena ide kesempatan cuma dateng sekali. Siapa tau kalau tulisan ini udah selesai ditulis, dan gue baca ulang, ternyata gue nganggep nya everything is okay. Padahal tadi gue kepikiran pengen ngubah kalimat 'anu' atau ingin menambahkan beberapa kalimat pada paragraf berapa-kali-gue-lupa.

Menulislah semerdeka lo

Fikiran itu harus nya bebas, istilah thinking out of the box, atau juga thinking like there is no box ini gue setuju, karena pergerakan lo bakal terbatas kalau ada si kampret box ini.

Terbatas itu gini, mau menulis tentang JavaScript, tapi cuma tau dikit tentang JavaScript. Nah, si box kampret nya ini ada di tapi cuma tau dikit tentang JavaScript. Kalau pengen nulis tentang JavaScript, yaudin tulis. Masalah cuma tau dikit tentang JavaScript mah gampang, entar lo nulis tentang JavaScript sampai ke decorator atau async-await malah mikir tau dikit nya sampai mana.

Nulislah seperti enggak ada yang baca

Section ini bahasa bebas nya dari judul yang gue tulis, biar keliatan formal. Lo pernah ngerasa enggak sih salting nya kalau kita lagi nulis diliatin? Menurut gue itu biasa aja, yang enggak biasa kalau nulis tapi kebanyakan mikir tentang pembaca.

Entar kalau tulisan nya view nya cuma 0, malah sedih.

Maksud dari section ini adalah untuk menghindari pemikiran seperti ini duh gue nulis pakai bahasa gini, disenengin pembaca enggak ya? Duh kayaknya aing harus pakai kata saya-kamu daripada gue-lo deh. Duh pembaca gue bakal mikir kalau gue ini sombong enggak ya?

Yee anying tulis aja jangan kebanyakan mikir. Mikir boleh, tapi jangan kebanyakan. Karena sesuatu yang berlebihan itu enggak baik. Berfikir lebih maju boleh, misalnya gue harus nulis pakai cara gini biar nanti-nanti pembaca terus nyaman dengan tulisan gue. Lo kejauhan mikir nya, ganti status dari draft ke published aja belum.

Realistis aja, lakukan yang terbaik untuk hari ini aja dulu. Belajar dari kesalahan, jangan gengsi untuk menghindari kesalahan. Terima feedback, terus latihan menulis. Kalau memang menulis enggak membuat diri lo bahagia, yaa cari kegiatan lain selain menulis.

Ada dalam tulisan tentang UXMyth, bahwa lo ber-asumsi sebagaimana pengguna lo. yang berarti kalau disini lo itu ber-asumsi sebagai pembaca. Dan ini salah, enggak bisa dipungkiri kalau mereka memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Lo mungkin mikir pembaca gue harus membaca tulisan gue dengan tata bahasa yang rapih dan ter-struktur. That's okay, tapi kalau tujuan mereka membaca tulisan lo cuma pengen tau bagaimana cara deploy ke Heroku, sampai Microsoft meng-open source-kan kode Windows pun, pembaca lo enggak bakal peduli dengan pembahasan lo kenapa Heroku nama nya Heroku, bukan Heromu.

Yang terakhir...

Be nice. Don't be a jerk. Kalian tau sebrengsek apa orang menulis tulisan hoax? Atau tulisan yang sangat menyudutkan? Tulisan sampah? Tulisan racun? Atau tulisan yang clickbait-y yang berjudul "Inilah response cofounder github tentang perihal akuisisi GitHub oleh Microsoft" yang tulisan nya membahas ngalor ngidul, yang intinya response dari cofounder tersebut cuma bilang "anying".

Iya, itu misal aja.

Dan sebagai pembaca pun, jangan buat penulis down atas kritikan lo kepada penulis. Kalau gue sih orang nya santai-santai aja, karena menulis pun udah bukan setahun-dua tahun; Coba kalau ada orang yang ingin mulai menulis, misalnya menulis blog, terus lo baca tulisan tersebut, terus lo respon "bahasa nya susah dimengerti amat sih", gimana perasaan penulis?

bodo amat, blog-blog gue.

Haha bercanda, yaa mungkin dia jadi down, dan malah jadi males untuk menulis lagi. Setiap orang kan berbeda, tapi lo adalah racun. Alangkah bijak nya jika kita memberi kritikan yang membangun (bullshit banget ya bahasanya?) seperti tulisan nya keren gan, tapi ada beberapa bahasa yang susah dimengerti nih. Kalau mau ditambah "hehe" atau "wkwk" juga gak apa-apa biar enggak disangka nge-gas.

Jadi begitulah kira-kira cara menulis ya, jadi maafkan kalau gue bohong tentang menulis itu susah, karena yang susah itu memahami maksud dari tiba-tiba di-chat "Aku rindu kamu?". Dijawab ngasih atau nanya malah dibales "menurut kamu?".

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.