Pilihan

Hidup ini tentang pilihan, bahkan sampai hari ini lo bisa hidup atau enggak, lo yang memilih.

Di kampung tempat gue tinggal dulu, rata-rata cita-cita mereka adalah menjadi PNS. Dengan menjadi PNS insya Allah hidup kita terjamin, dapet tunjangan pensiun, digaji tiap bulan, dan kadang dapet beberapa fasilitas dari kantor untuk mendukung pekerjaan sehari-hari kita.

Dengan menjadi PNS, insya Allah hidup akan tenang. Enggak bakal khawatir besok mau makan apa, enggak bakal di remehin ketika pengen ngelamar anak orang terus mertuanya bilang "emang kamu kerja dimana?", dan secara tidak langsung kita membantu sedikit ke pemerintahan yang ada.

Dan itu pilihan mereka, setiap orang memiliki pilihan nya masing-masing.


Dari keluarga mamah dan papah, enggak ada satu orang pun yang kerja enggak menjadi PNS. Maksudnya bukan sombong atau meremehkan ya, dan itu sudah menjadi pilihan mereka. Pernah gue dibilang oleh papah gue, "entar kerja mau jadi apa", "programmer mungkin?", "enggak jelas jadi programmer mah, kerjaan nya bikin virus, bikin anti virus nya enggak bisa. ngebongkar komputer, masang nya lagi enggak bisa". Dan gue direkomendasikan mending menjadi staff IT di pemerintahan aja, daripada kerja enggak jelas.

Dan papah gue dulu ngiranya kerjaan programmer itu seperti itu. Padahal secara tidak langsung, papah gue menjelaskan kerjaan rata-rata "Staff IT", bukan programmer.

Dan tanpa programmer, mungkin papah gue enggak bakal bisa berbelanja menggunakan Bukalapak, mengirim pesan ke anak nya via LINE, dan membuat grup keluarga di Whatsapp untuk saling pamer jalan-jalan atau mengirim pesan berantai.


Alasan menjadi PNS adalah menjadi pribadi yang tinggal di zona nyaman. Enggak ada masalah untuk itu. Hidup kita insya Allah terjamin, dan kerjaan nya pun jelas ngapain (ngoprek2 komputer, scan virus, dan ganti catridge soalnya kerjaan yang keliatan). Coba lu liat kerjaan programmer-programmer yang ada, apaansi kerjaan nya depan laptop doang, ngetik2 enggak jelas di layar item dengan warna font ijo untuk oldschool, atau color scheme monokai. Pakai headset, kadang kerja di meja nya, kadang di warung kopi.

Gue pernah pas liburan ke pantai carita, bawa laptop. Karena lagi handle kerjaan freelance dari HKG, bokap nyeletuk 'kamu ini kerjaan nya ngapain sih, bikin website-website doang gitu?'. Ini bokap udah sampe ke level 'tau apa itu website', biar cepet gue jawab 'iya pah'. Entar klo gue jawab sebagai Frontend Engineer makin dianggep alien dah gue.

trus ditanya 'digaji berapa?', '330 pah'. Kecil amat katanya, jadi PNS bisa dapet 3jtan sebulan. Gue jawab 330 dolar pah, beliau jawab 'sebulan?', gue jawab 'klo project nya kelar seminggu, berarti seminggu'. Dari situ setidak nya gue dapet lampu hijau untuk tidak menjadi PNS. Gue enggak ngebantu pemerintahan dong? No, man. Gue bayar pajak.


Orang-orang yang ada di keluarga gue atau di kampung gue ini tipe orang yang nyaman di zona nya. Maksudnya gini, ada temen gue yang minta cariin kerjaan, dia sarjana komputer dari kampus yang berjaket kuning, tapi berada di kota Serang. Dia minta cariin kerjaan, tapi jangan tentang IT. Dia lebih pengen cari nya di bidang fotografi. Terus gue tanya "napa enggak jadi programmer aja bang?" dia jawab 'pusing jadi programmer mah'. Dia ada basic di graphic design, terus gue rekomendasiin 'ada nih lowongan, tapi graphic designer'. Dia jawab 'males jadi graphic desainer mah, paling kerjaan nya fotokopi sama cetak undangan'. Terus gue ada kenalan Product Designer yang kerja di startup, yaa kek 'Marketplace for Photographer' gitu.

Dia klo menurut gue tau marketplace itu apa, tapi dia enggak mau dengan alasan kurang lebih seperti 'ribet ah nek, gua mau nya yang kalau misalnya lo ada acara kayak nikahan gitu ya, nah lo bisa sewa jasa gua gitu'.

Dalem hati gue nyeletuk 'lu mau nya apaansi?', tapi gue bilang aja ke dia 'oke bang kalau dapet entar gue langsung kabarin'.

Disini dia tuh pengen nya di zona nyaman nya, enggak mau keluar dari zona nya karena 'enggak mau pusing', dan 'enggak mau ribet'. Gue dulu pernah juga berada di zona ini, ketika dituntut untuk memahami bahasa Arab. gue enggak mau karena ribet, susah dipelajari, dan enggak sesuai passion gue gitu, gue pengen nya belajar bahasa pemrograman atau setidaknya yang manusia dikit belajar bahasa Inggris.

Buat apa gue mempelajari bahasa Arab? Toh nanti juga enggak bakal gue pake di karir gue.

Tapi pas udah sekarang gue sadar, ini buat bekal akhirat. gue enggak mau solat sekedar solat, ngaji cuma sekedar baca ayat. beruntung gue dulu sekolah di sekolahan yang khusus tentang agama gitu, jadi mempelajari lagi bahasa Arab bukan hal yang sangat susah dan enggak belajar dari nol lagi.

Dan ini pilihan gue, bahkan kalau sampai nanti gue mati gue enggak pernah mempelajari lagi tentang bahasa Arab itu udah pilihan gue.

Sekarang gini gue sebagai Software Engineer, khususnya sebagai Frontend Engineer. Gue udah lumayan tau banyak tentang bidang ini, apakah gue mau slow aja seperti ini, atau mau terus belajar lagi. Ini bukan pertanyaan, ini pilihan. Seperti lu mau menjadi PNS atau kerja di perusahaan swasta, atau jadi entrepreneur, atau mungkin jadi petani. Itu pilihan lu.

Yang intinya, jangan terjebak di zona nyaman. Ada mahfudzot atau hadist gue lupa yang berbunyi:

Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia celaka

Kalimat diatas tentang pergerakan, perubahan, dan pilihan. Orang yang berada di zona nyaman mungkin orang yang merugi, karena hari-hari nya sama saja seperti hari kemarin. Yang harus lo pilih ketika ingin nya keluar dari zona nyaman adalah ingin celaka, atau ingin beruntung?

And that's your choice, hidup selalu tentang pilihan.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.