Menjadi Apple Developer

Ya, sekarang gue resmi menjadi Apple Develoeper, yeaay!

Maksudnya bukan developer yang kerja di Apple, tapi developer yang bekerja "untuk" Apple, alias secara tidak langsung.

Jadi cerita nya gini, bulan ini alhamdulillah lagi banyak duit, lebih dari cukup malah. Tadi nya mau dihabiskan buat beli iPad, atau enggak Amazon Kindle, tapi gue urungkan karena gue belum butuh banget untuk kedua gadget tersebut.

Terus tadi nya mau beli manual brewing untuk ngopi, tapi sayang juga soalnya di kantor ada. Dan gue pun masih belum bisa-bisa amat bikin kopi, apalagi kopi yang enak.

Nawarin ke temen-temen buat minjem duit, malah pada enggak mau. Pada sombong emang mentang-mentang lagi liburan dan mau lebaran. Karena bingung mau diapain, pengen di tabung juga males, daripada gue pakai untuk sesuatu yang negative, mending gue bakar duit ini untuk join Apple Developer Program! Daaaan....

Yeaah, $99 merupakan nominal yang sangat something untuk mahasiswa miskin seperti saya. Dan gue sangat-sangat berharap untuk diri ini agar bisa memaksimalkan nya semaksimal mungkin.

Kenapa gue milih join developer program nya Apple yang harus bayar $99 setiap tahun, daripada $25 seumur hidup nya Android?

$25 itu murah

Haha bukan sombong, tapi memang benar adanya. Bayangin, dengan 350rb aja lo bisa publish aplikasi lo ke Playstore (yang pasti nya harus melalui beberapa review) sampai kapanpun, selagi Playstore masih ada.

Sounds good, right?

Yang arti nya, lo harus bersaing dengan ber-ribu ribu developer lainnya, terlebih yang nge-team. Terlebih yang udah keren banget, terlebih dari company besar. hadeh.

Dan enggak menutup kemungkinan ada "aplikasi useless" yang bertebaran, waktu dulu masih pakai android gue sering liat aplikasi kampret kayak gini, dan sayangnya pengguna nya lebih kampret. Ambil contoh (diambil dari aplikasi yang diinstall oleh temen kantor gue, OB): Aplikasi lagu gratis, lupa gue nama nya apa. Intinya aplikasi ini memutar lagu-lagu yang udah ada di list secara gratis. Misal di list nya cuma lagu-lagu dari Kangen Band, Armada, dan Vagetoz.

Yaudah dia cuma bisa memutar lagu-lagu itu aja, yang berarti: Lagu tersebut pasti nya BAJAKAN. Download dari internet dengan googling pakai kata kunci "Download lagu blablbla mp3", kalau enggak ketemu tambahin aja "stafa band" misalnya.

Dan pengguna nya pun kampret juga lagi, download aja. Terus pas enggak ada lagu lain, komplen. Dan keren nya, aplikasi tersebut masih ada di playstore, dan masih terinstall di handphone dia :)

Fuck piracy.

Developer Android itu banyak.

Banyak banget.

Ya, udah gue jelasin singkat nya diatas. Bagus dong berarti untuk ekosistem Android? Iya, tapi enggak untuk developer. Kasian. Banyak saingan, tapi gak apa-apa selagi masih banyak lowongan Android Developer dengan gaji yang layak.

Setiap orang bisa jadi Android Developer, asal ada laptop/komputer dan aplikasi Android Studio. Enggak perlu punya HP Android pun, bisa menjalankan nya via Simulator.

Beda dengan ekosistem Apple yang HARUS PUNYA MACBOOK/iMac. Ini kampret sih emang, beli mekbuk aja paling murah 12jt-an (bukan yang abal-abal). Minimal klo low-budget banget, beli Mac mini. Itupun harus beli monitor, keyboard, mouse dll nya, kalau "masih satu merk" bisa sampai 12jt-an juga.

Setidaknya, pasar nya jadi sedikit. Kebutuhan insya Allah banyak, kalau ada produk mobile nya (Android misalnya), pasti ada (atau harus ada) aplikasi untuk iOS nya juga. Sedangkan mencari developer iOS disini itu lumayan susah, karena belum sebanyak developer android.

Dan itu sebenernya enak nya, perusahaan juga mikir untuk hire lo kalo dia ngasih budget yang ehm, "cukup". Karena lo juga udah ngeluarin banyak duit buat beli mekbuk, iPhone, atau iPad, dan berbagai perangkat apple yang harganya brengsek. btw, harga enggak membohongi kualitas kok.

Dan ya, pengguna apple di Indonesia pun udah lumayan banyak, dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang "mikir", kalau "enggak mikir" setidaknya yang berduit. Cocok untuk target bisnis, kan? Gue enggak bermaksud memandang beda untuk Android user/developer, mungkin lebih tepat nya ada di "ekslusifitas". Gue enggak ganggu bisnis lo, jadi jangan ganggu bisnis gue juga, oke?

Apple products not for everyone

Seriously. Misi Windows adalah untuk membuat komputer yang bisa digunakan oleh semua orang. It's fair. Beda sama Apple, mereka cuma nargetin para pekerja kreatif. Kalau bukan pekerja kreatif, berarti dia punya banyak duit.

Beda dengan Linux yang menargetkan untuk para "idealis", they believe on Open Source, free, and freedom. Orang-orang yang percaya dengan free dan freedom, pasti familiar dengan linux. Dan kalau familiar dengan linux, pasti bakal "feels like home" ketika menggunakan produk apple, lebih spesifiknya Mac OS.

Kalau ada developer yang jago banget, idealis, tapi pakai Windows, berarti dia seorang CTO. Bet with me. Udah 6 CTO yang gue temuin dan mereka menggunakan Windows, including my boss in office. Haha.

Apple enggak hanya memberikan freedom (free update salah satu nya, beda kan sama Windows?), tapi juga memberikan hal-hal yang menurut orang sepele, tapi "penting" bagi mereka yang mengerti. Tentang desain, aestetik, sampai ke idealisme. Mereka memberikan free update (untuk OS misalnya), karena bisnis mereka ada di hardware, bukan di software.

Dan yang paling gue suka adalah Apple sangat peduli dengan privacy. Mereka enggak terlalu mementingkan tentang "data pengguna" karena mereka bukan perusahaan iklan. Dan yang keren dari Apple ini, bener-bener ngebangun komunitas developer. Meskipun enggak ada program "developer expert", para developer seperti "sukarelawan" (bahkan membayar) untuk mendukung ekosistem Apple. Sistem operasi mana yang App Store nya paling besar (di desktop khususnya), dan meng-generate revenue sampai $60B pada tahun 2017?

Gue enggak terlalu membangga-bangga kan Apple, dan bukan fanboy juga (karena harga produk apple kampret-kampret), tapi gue mencoba realistis aja. Gue harus bisa makan dan tetap hidup, dan gue ngeliat celah di ekosistem Apple ini, dan yang gue takutin adalah, ketika ekosistem Apple ini di terapkan ke pasar Indonesia.

Terlebih, gue belum nemu "aplikasi buatan developer (indonesia) yang bukan dari company" berada di Peringkat Teratas App Store. Yang gue temuin sih ecommerce lagi, layanan on-demand lagi, dan per-bankan.

Dan yang gila nya, ini malah gue jadikan tantangan. Belum pernah develop aplikasi mobile, baru belajar tentang mobile app development, enroll developer program Apple, develop sendiri, malah pengen nyoba bikin aplikasi yang berada di Peringkat Teratas? Haha, silahkan tertawa.

Jadi begitulah, terlebih ini merupakan lelucon di dunia kerja juga. Ya seperti yang kita tau, biasanya kalau ada di lowongan pekerjaan itu syarat untuk menjadi Android Developer/iOS Developer di suatu perusahaan adalah setidak nya pernah mempublish aplikasi ke AppStore/PlayStore, kan?

Dan untung nya, gue masih nyaman menjadi Frontend Engineer di perusahaan ini dan belum minat untuk nyari pekerjaan lain ini ke perusahaan lain :)

Thanks for stopping by, and pray for me and for us!

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.