Rethinking Your Hobby

Lo punya hobi, gue punya hobi. Hampir setiap orang punya hobi, setuju?

Ada satu hal yang mungkin kalian sadari atau belum kalian sadari, yaitu dengan hobi kita harus mengeluarkan uang. Hobi baca? Beli buku. Hobi koleksi mainan? Beli juga. Hobi nonton? Beli tiket bioskop. Hobi nonton di layarkaca21? Bayar internet, dan ya, menukar informasi untuk membayar mereka via adsense.

Hampir semua hobi mengeluarkan uang. Ada satu kutipan yang mungkin kalian sudah pernah dengar/liat:

Pekerjaan yang paling indah adalah hobi yang dibayar.

That's it man. Mengapa kita tidak membuat hobi kita ini bisa mendapatkan uang, daripada harus mengeluarkan uang?

Enggak mungkin sesuatu tidak bisa dijadikan tempat untuk mendapatkan uang, apalagi hobi. Lo cuma belum nemu cara nya, atau emang enggak ada niatan untuk mendapatkan uang dari hobi lo. Kalau lo bisa mengeluarkan sesuatu untuk tersebut, berarti lo bisa mendapatkan sesuatu dari tersebut.

Prinsip gue dalam mengeluarkan sesuatu adalah harus mendapatkan sesuatu dari apa yang udah gue keluarkan tersebut. Gue beli mekbuk bukan hanya sekedar gaya-gayaan, banyak hal yang gue dapet dari mekbuk, salah satu nya seperti 'senioritas'.


Gue pernah di-interview sama founder starap (biasalah starap baru dapet funding, lagi seneng2 nya hiring), beliau konsultasi dengan gue tentang Native Mobile, Hybrid Mobile App (via Phonegap dan ionic), sama React Native. Ceritanya, dia tau kalau gue ini udah berpengalaman dengan React, begitupula dengan React Native. Dia tau karena following twitter gue (silahkan cari, haha) dan baca-baca tulisan gue di Medium (waktu dulu seneng-seneng nya ngebahas tentang React).

Dia tau kalau React Native lebih efektif daripada ionic, dan lebih efisien dari native mobile app. Gue diliatin "Mobile App" mereka yang sebelum nya dibuat menggunakan ionic, dan minta tolong ke gue buat buka laptop dan ngejelasin tentang bagaimana cara aplikasi ini di-port ke RN.

Pas gue buka laptop, beliau bilang udah lama ya mas jadi developer?, gue biasa lah basa-basi haha enggak juga. Ternyata dia bilang, dari tipe laptop kita bisa tau tingkat senioritas seseorang. Dan kalau udah pakai mekbuk, menurut dia tingkatnya udah senior. Kalau ada yang jago banget, laptop nya aneh-aneh, tapi pakai windows, pasti dia CTO, atau enggak SVP lah.

Haha rasis sih menurut gue, menilai seseorang dari laptop nya, tapi mengingat mek ini dibuat diatas UNIX, yaa lumayan rasional dikit lah.


Lanjut.

Intinya, gue enggak pernah mau mengeluarkan sesuatu, tapi enggak mendapatkan sesuatu dari apa yang telah gue keluarkan tersebut.

Salah satu nya hobi, dan kayaknya hobi gue biasa-biasa aja dah. Gue suka membaca, dan gue mencoba untuk menulis. Menulis apapun. Karena menulis adalah membaca 2x, kan?

Gue hobi belajar, dan suka menulis kode (iya, ngoding bahasa kampung nya). Gue mencoba untuk membuat orang lain juga bisa menulis kode. Tau fundamental nya, tau cara solving problem. Tau kalau error gini, harus ngapain. Ada celah untuk bisa mendapatkan $$ dari sini.

Enggak ada sesuatu yang gratis, there is no free lunch. Pasti ada sesuatu yang ditukar dengan yang gratis. Linus Torvalds menulis kode kernel, open source, dan free to use. Dia menjual kualitas, maksudnya dia menulis kode yang sangat bermanfaat untuk orang lain, dan bila orang lain tersebut memang sangat terbantu mereka akan "ber-terima kasih" dengan cara mereka sendiri.

Seperti Wikipedia yang memberikan ensiklopedia online gratis, sebagai bentuk terima kasih, ada beberapa donatur yang mendonasikan uang nya untuk kestabilan Wikipedia, dan tetap membuat Wikipedia beroperasi tanpa iklan.

Telegram juga sama. Google juga sama, beda nya kita menukar nya dengan informasi.


Kalau lo punya hobi, dan cinta dengan hobi lo, silahkan cari cara agar lo tetap melakukan hobi lo. Mengeluarkan-dan-menerima. Giving-and-back. Kalau lo malah berfikir nih orang egois banget dah, masa apa-apa yang gratis jadi bayar, justru lo yang egois.

Lo hobi nonton film misalnya, tapi lebih suka nonton film bajakan daripada original/di bioskop karena bajakan gratis. Lo egois. tapi kan perusahaan tersebut udah beunghar? Ya, kalau makin banyak (atau malah lebih banyak) yang nonton bajakan, bisa bangkrut.

Sama seperti lo suka dengerin lagu nya X dari band Y. Si Y ini menjual lagu nya di iTunes, Google Play Music, Deezer, dan di website mereka sendiri. Lo suka dengerin lagu tersebut, suka dengan lagu-lagu yang dibuat oleh band tersebut, kalau penikmat nya lebih suka mengunduh bajakan daripada yang asli, lo yang egois.


Hal utama yang harus kalian tau adalah tidak ada yang gratis. Pipis di WC umum pun harus bayar 2000, pipis di belakang pohon ada moral yang harus dibayar. Mandi gratis, ada air yang dikeluarkan. Menghirup udara gratis, ada kesehatan yang harus dibayar.

Jadi, jika kalian punya hobi, dan kalian at least 'pernah' mengeluarkan uang untuk hobi kalian, silahkan coba cari cara bagaimana untuk bisa mendapatkan uang dari hobi kalian tersebut. Bukan karena matre, tapi untuk tetap membuat lo mencintai (dan makin mencintai) hobi lo tersebut.

Yours truly.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.