Untitled 1.0.0

Untuk postingan yang gue tulis dan gue males ngasih judul, gue namain jadi Untitled.

Tentang menjadi programmer

Teknologi berjalan sangat cepat. Enggak heran kalau posisi "programmer" laku keras akhir-akhir ini. Banyak company yang mulai hiring para developer, dari yang sesadis "Web Developer", sampai ke sespesialis "Backend Developer".

Gue rasa rangorang Indonesia ini penting untuk mempelajari dan menguasai tentang programming. Mangkanya para company-company hiring orang luar karena orang indonesia stock programmer nya dikit. Kalau ada, skill nya biasa aja. Yang skill nya lumayan keren/keren banget, pasti udah di hire oleh company besar.

Sebenernya memilih karir sebagai programmer enggak wajib sih, tapi gue yakin pasti menjanjikan. Banyak cara mencari duit di bidang ini. Kalau lo enggak terlalu musingin duit, banyak cara membantu rangorang di bidang ini. Dari yang sesepele "membuat para pedagang bisa berjualan dimana saja dan kapan saja" sampai sesekompleks "membuat mobil yang bisa nyetir sendiri".

Tentang telah menjadi programmer

Gue kesel kalau disini itu kita dituntut jadi generalist. Jack of all trades master of none. Bagus sih, gue analogikan para "generalist" ini seorang "Presiden" dan para "Spesialis" ini para menteri. Masalahnya, para generalist ini bener-bener spesialisasi dalam bidang 'tau-sedikit-dari-banyak', enggak?

Gue kuliah udah 3 tahun, diajarin Pascal, C++, Java, PHP, dll. Dasar nya doang. Gue mikir "mungkin kalau pengen mendalami bener-bener nya itu mah harus sendiri aja. Inisiatif mahasiswa". Lah anjir terus ngapain gue kuliah?

Gue pernah liat "perkuliahan" nya Stanford, tentang Computer Science. Ada kelas dimana mahasiswa nya diajarin tentang iOS Development. Dari dasar tentang 'Programming', dasar tentang iOS Development, sampai ke spesialisasi di 'Programming' dan iOS Development. Kalau enggak percaya, cari aja di iTunes Campus.

Disini rata-rata mencetak agar menjadi generalist. Oke ini keren, para CTO pun rata-rata generalist. Mereka tau database yang scalable itu misalnya NoSQL untuk kebutuhan mereka, dan Web Server yang reliable itu Nginx. Masalah optimasi database dan web server nya itu kerjaan para database engineer dan devops. Terus gue ngebayangin, kalau rata-rata orang dicetak untuk menjadi "CTO", terus yang ngebantuin "Para CTO" ini siapa? Apakah CTO tersebut tau cara menggunakan dan optimasi Webpack? Apakah mereka tau kalau kerjaan backend bukan cuma CRUD doang?

Tentang pasar programmer

Banyak temen gue yang programmer rata-rata kerja diluar negeri. Terlebih sekarang trend kerja remote sedang laris. rangorang bisa kerja dimana aja asal dia seneng dan produktif, company-company bisa hire talent yang skill nya gelo-gelo tanpa ribet mikirin dia agama nya apa. bercanda, sorry galucu. Mereka enggak mikirin dia berasal dari mana.

Terlebih, harga mata uang negara kita beda jauh dengan mata uang luar negeri. Contoh USD, 1 USD = 14.000 rupiah (11 Mei 2019), $10/jam aja kalau sehari bisa dapet Rp. 1,123,164.00 kalau jam kerja nya selama 8jam. Gue dulu yang junior aja pernah dihargain $20.00/jam kerja sama orang Hongkong, dan karena dulu masih goblok, jadi gue ngelarin pekerjaan tersebut cuma 2 jam. Kalau sekarang pasti gue kerjain minimal 10 jam, dan udah dapet 2jt dalam sehari. Btw deadline nya seminggu bisa dapet Rp. 19,655,370.00 dalam seminggu buat beli mekbuk baru

2018-05-11_03-55-14

Mangkanya mungkin programmer2 indonesia pada tertarik kerja dengan orang luar karena rate $ lebih menggiurkan dari IDR. Dan itu pilihan mereka. Kenapa sih mereka enggak ada niatan gitu bikin usaha juga di Indonesia, siapa tau bisa membantu per-ekonomian negara gitu kan. Yang penting rangorang ngeluarin duit buat mereka, dan mereka bayar pajak. Setidaknya usaha yang minimal mendukung para developer Indonesia lah.

Tentang ngalor ngidul weh

Gue seneng sama ada starap di Indo, sebuah usaha SaaS untuk membantu para pengusaha (dan developer juga) untuk mempermudah menjalin komunikasi dengan customer mereka via email. Kenapa gue seneng? Karena setidaknya mereka enggak bikin ekamers. udaah banyak banget ecommerce di Indo, tinggal nunggu berita merger, shutdown, atau pivot. Hukum alam berlaku guys

Starap yang gue maksud tersebut seperti mailchimp usaha nya, dan that's not problem, man. Lu tau paradigma orang indonesia kek gimana? "Gue lebih memilih mailchimp karena murah, TERLEBIH ada pilihan paket gratis nya". Dan lu tau si starap ini bisnis model nya gimana? Enggak ada paket gratis. There is no freemium, semua nya premium. Yang gue liat, si founder ini kayak ter-influence sama rangorang dari Basecamp. Gue yakin kalau ngeliat dari pricing mereka, dan enggak ada 'perbedaan' fitur di setiap pricing mereka. Paling cuma "kalau bayar tahunan, lu hemat sekian", dll. Pengen lu ngirim email 1jt tiap hari, tim yang gunain layanan tersebut ada 900 orang, selagi lu bayar, ya silahkan gunakan.

Dan starap tersebut bernama kirim.email, sukses terus mas! (there is no affiliated with them btw).


Gue ngobrol sama temen-temen gue, gue mancing-mancing mereka dengan pertanyaan:

  • lu server nyewa dimana?
  • transaction email pake apa?
  • hosting static assets dimana?
  • pake cdn enggak?
  • beli domain dimana?

Jawaban nya:

  • digitalocean, linode, atau vultr.
  • mailgun/amazon ses
  • di server biasa aja, ada yang pake object storage di amazon s3
  • ada yang pake cdn (cloudflare, fastly, dan keycdn) ada yang enggak pake (dengan alasan target mereka rang indo)
  • namecheap.

Dari jawaban mereka enggak ada satupun yang menggunakan produk indo. Bukan gue sok patriotis atau gimana ya, masalahnya kalau harga rupiah lagi anjlok dan bisnis lagi enggak stabil entar rudet buat bayar tagihan nya.

Padahal untuk server ada beberapa yang memang lumayan reliable, kayak Cloudkilat, Biznet gio, atau para hosting company yang dijalankan oleh 1-3 orang. Alasan mereka menggunakan layanan tersebut "jarang banget downtime", "karena murah", atau "dapet promo". Emang sih yang gue liat klo masalah server ini (atau tepatnya infrastruktur kali ya) di indo itu yang bener-bener reliable, pasarnya untuk enterprise.

Yang untuk solo developer/hobbyist/SMB enggak terlalu reliable. Lu liat do/linode/vultr, mereka target pasar nya untuk mereka yang ingin menyewa server. pengen solo developer/agensi/hobbyist/bisnis kecil, kalau lu bayar minimal $5, ya dapet server selama sebulan. Kalau kebutuhan nya pengen lebih, yaa bayar lebih.

untuk transaction email gue belum nemu di Indonesia, padahal ini jantung nya starap digital. ngirim konfirmasi pendaftaran, via email. ngirim detail transaksi, via email. dll. dari beberapa starap indo yang produk nya gue pake, rata-rata mereka menggunakan sendgrid. Beberapa pakai infrastruktur sendiri, dan gue seneng juga sih ada yang pakai kirim.email meskipun bukan keperluan transaction email (cuma untuk ngirim promo gitu).

takut disangkanya gue bohong

2018-05-11_04-25-19

dan ini

2018-05-11_04-26-32

dan itu pilihan mereka.

Dan untuk CDN, kita kayaknya think & act locally lah ya. Target kita adalah yaa setidaknya dipake oleh hampir seluruh orang Indonesia aja dulu. Jadi masalah CDN enggak terlalu diribetin. Untuk caching, ddos protection, dll kita percayakan ke sistem yang sudah kita buat aja.

sebenernya racun sih kalau ngeliat ke luar mulu, terlebih kita enggak suka kan klo dibanding-bandingin? gue aja kalau dibanding-bandingin sama mantan dia enggak suka, tapi kalau itu bisa berdampak positif, why not? Misal mantan dia tuh pinter, rajin ibadah, dll. Kalau itu memberikan dampak positif buat gue, yaa why not?

Diluar ada yang bikin bisnis digital dari hal sekecil pencatatan apa yang ingin kita lakukan (dan ada juga yang apa yang udah kita lakukan) sampai kerajaan salesforce. bahkan ada yang bikin bisnis dari cuma menawarkan membership (yang pastinya ada nilai yang kita dapat lah). apakah laku? laku. Pasti enggak semua, tapi setidaknya ada.

Kalau disini: ekamers lagi, layanan on-demand lagi, dll. lebih banyak membuat persaingan daripada membantu satu sama lain. Gimana kalau ekamers bekerja sama dengan starap yang bergerak dibidang shipping, publisher buku dibantu dengan starap untuk software penulisan buku, dll. pasti lebih indah. meskipun bakal lebih banyak hal yang dikeluarkan oleh pengguna. Nonton di netflix, denger lagu di apple music, hosting code di github, deploy ke code ke heroku. ada beberapa money yang keluar, tapi setidaknya gue enggak bingung pengen milih layanan yang mana. dan para hustle pun enggak perlu saling sikut.

monopoli? ngomongin dunia mah enggak bakal kelar-kelas bos.

jadi, intinya: enggak ada intinya. gue pengen rangorang indo ini mulai berbisnis di industri digital, stop menjadi konsumen luar, dan mulai membantu satu sama lain. mungkin rada susah untuk sebuah negara berkembang, tapi kalau ada usaha pasti jalan.

pakai produk luar no problem, asal produk dalem klo memang potensial, jangan di tidak hargai (gimana ya bahasanya). Setiap orang pasti bakal mengupgrade, bila banyak yang support.

bikin banyak usaha, biar bisa mengurangi pengangguran di negara ini. cetak talent, jangan cuma pengen nya ngambil talen. dan klo pengen bikin starap, jangan ekamers dan on-demand ya. udah banyak, mending dukung mereka aja.

the last, opinions are my own. Kalau enggak suka, sukain aja. Kalau ada yang salah, kita diskusikan. gue menghargai perbedaan, tapi kalau lu nanya gue tentang gimana kuliah gue, monmaap gue bakal rasis.

btw gue enggak ada afiliasi sama Indonesia, gue masyarakat dunia. tapi karena gue lahir di Pandeglang, KTP bikin di Serang, dan sekarang tinggal di Bandung, jadi yaa gue kewarganegaraann indonesia laa.

Penutup:

Sungguh bicara denganmu tentang segala haaaal yang bukan tentang kitaaaa selalu bisa membuat semua lebih bersaaahajaaa... wooooo

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.