Wake me up when I'm famous

Menjadi sukses adalah mimpi setiap orang, dan menjadi terkenal adalah pilihan. Siapa sih yang mau hidup nya gagal?

Hari ini abis berfikir, tentang sosial media. Sebuah platform yang membuat 'cara berfikir' gue berubah. Hampir semua orang tau kalau sosial media adalah sumber distraction dari produktifitas setiap hari kita. Tapi itu bukan untuk setiap orang, ada yang hidup nya bergantung dengan sosial media, maksud gue ada orang-orang yang sumber 'apakah-gue-bakal-makan-besok' nya berdasarkan akun sosial media mereka.

Contohnya: The-bullshit-instagram-influencer. Bukan, gue bukan benci/iri sama kehidupan mereka, that's not my life goals become influencer via Instagram, and everyone has their own option. And so are you. Mungkin 40% hari gue dihabiskan dengan membuka Instagram, itulah alasan mengapa gue uninstall dan temporary delete Instagram account. Sejak 4 hari yang lalu, dan hidup gue biasa aja enggak ada yang kurang.

Tulisan ini tentang sosial media, setiap orang hampir memiliki sosial media. Karena berbagi keseharian dengan orang lain/orang terdekat itu asik, dan sosial media juga tempat ranting yang seru. I admit it.

Akun sosial media gue pun sekarang yang aktif cuma Twitter sama Linkedin (masuk sosmed enggak sih si Linkedin ini?). Messaging app cuma pakai Whatsapp (temen deket & keluarga), LINE (temen kampus), dan Telegram (temen kantor). Hampir 98% apa yang gue bagikan via instagram Story/Whatsapp Story merupakan hal yang 'enggak-penting-penting-amat'. 2% nya kadang penting, maksudnya seperti just for info.

So, mulai dari tulisan ini dibuat, gue akan mulai bener-bener menjadi seorang apatis di Internet. Mungkin masih pakai Twitter dan Linkedin, tapi hanya untuk memproduksi sesuatu (misal untuk share tulisan yang gue tulis/baca, dll). Dan gue bakal konsisten menggunakan Buffer. Ya karena Buffer cuma untuk (bahasa developer nya CREATE, di CRUD), bukan untuk READ, UPDATE, atau DELETE.

Tapi nanti hidup gue biasa aja, hmm mungkin seperti Laah si Fariz mah enggak asik enggak main Instagram, laah gimana lagi ya cara gue buat stalking si Fariz, riz, kalau gue mau kontek lu gimana?. Padahal Telegram gue selalu open untuk siapapun, dan kalau lu temen deket gue pasti dapet nomor gue dari grup whatsapp alumni. Dan klo lu temen kampus gue pun pasti dapet id line gue dari grup kelas, so don't worry.

Sampai kapan gue bakal gini?

Berbagi hal yang just for fun memang seru sih. Kadang gue bikin Instagram Story enggak jelas, ngetweet aneh, dll dan Alhamdulillah nya ada aja orang yang merasa terhibur dengan apa yang gue lakuin tersebut. Dan kadang kalau share informasi via sosmed pun, ada aja yang merasa terbantu.

Tapi 80% merupakan hal yang 'oh-cukup-tau', bukan sesuatu yang bener-bener sangat bermanfaat untuk kehidupan gue/mereka. Informasi dari akun lambe turah enggak bakal bikin gue dapet IPK 4, dan kegiatan yang lu bagikan di Instagram Story/Whatsapp Story enggak bakal bikin gue 'besok-bisa-makan'. Kalau gue kangen dan pengen bersosial dengan lu semua pasti gue temuin kok, kan kita bisa berkomunikasi via Messaging app dulu, yakan?

That's it man. Gue bakal respawn dari dunia per-sosial-media-an ini sampai gue udah sukses dan terkenal. Kalau gue masih respawn aja (anjir bahasa dota pisan yak), berarti gue belum sukses dan belum terkenal. Dan itu resiko yang harus gue terima.

Gue bakal selalu berbagi via Blog, sharing sesuatu yang terjadi dalam hidup gue. Bukan hanya untuk "I think (ehm, blogging) therefore I'm ya", tapi untuk catatan kehidupan gue juga. Sukses gagal nya gue bisa terekam dari apa yang gue tulis dan bagikan disini.

Goodbye my Internet friend! You are always welcome to discuss with me via Telegram or [email protected]

In case you need it:

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.