Worth to Read #2

Selamat hari Senin! mari kita isi otak kita dengan pengetahuan dengan hal-hal yang sangat bermanfaat.

A 2-Year Stanford Study Shows the Astonishing Productivity Boost of Working From Home

Kerja remote atau lebih spesifik nya kerja dari rumah sekarang hampir menjadi tren di company IT, khususnya company yang membuat produk digital. Kita bisa melihat company-company (yang mungkin 'tidak terlalu besar', tapi profitable) seperti Wordpress, Ghost, Doist, dan Basecamp. Mereka adalah company yang memiliki kultur "Remote first", dan selalu mempromosikan kultur nya tersebut. Sampai-sampai Wordpress menutup markas nya di San Francisco karena cuma dikit karyawan nya yang dateng kesana.

Ada riset dari Stanford tentang produktifitas dan kaitan nya dengan kerja dari rumah (alias kerja enggak dateng ke kantor), dan ternyata kerja dari rumah bisa meningkatkan produktifitas.

Baca selengkapnya disini: https://www.inc.com/scott-mautz/a-2-year-stanford-study-shows-astonishing-productivity-boost-of-working-from-home.html

P.S: Tentunya jika kerja dari rumah ingin efektif dan efisien, kita harus mengatur kenyamanan tempat kerja kita tersebut. Seperti meja yang pas, kursi yang nyaman, internet yang cepat, dll. Beruntung kalau company tempat lo kerja mendukung setup home-office ini (kalau enggak biasanya dikasih tunjangan untuk kerja di coworking space/tempat ngopi).

What Happened at Fieldbook

Ada sebuah startup yang bernama Fieldbook, yaitu sebuah produk yang memberikan layanan untuk membuat database semudah membuat spreadsheet (seperti membuat data di excel)

Dulu gue pernah menggunakan ini sebagai percobaan, dan ternyata memang sangat mudah digunakan. Namun sayangnya rumput tetangga lebih menarik, seperti Airtable. Airtable lebih powerful, bahkan kita bisa membuat database, semudah menggunakan "Kanban Board".

Di tulisan ini kita bisa mempelajari bagaimana cerita Fieldbook dibuat, visi nya, dan mengapa gagal.

Baca selengkapnya disini: https://medium.com/the-fieldbook-blog/what-happened-at-fieldbook-d70bf25b3968

Mind the gap

How to spend your time when there's nothing left to do?

Jason Fried, CEO Basecamp menulis tentang penyelesaian sesuatu. Tentang "Done is better than perfect". Tentang waktu yang dibuang dengan baik dan waktu yang dibuang-buang. Dia menulis tentang "sesuatu yang butuh perhatian", daripada "sesuatu yang ingin diperhatikan". Intinya tentang bagaimana cara menghabiskan waktu.

Baca selengkapnya disini: https://m.signalvnoise.com/mind-the-gap-3a91df9a6fe

Native Apps are Doomed

Ini tulisan lama, tapi menarik untuk diketahui. Eric Eliott menulis tentang kelemahan native apps dan kelebihan web apps. Yang Web Apps disini berarti Web Apps yang progressive, alias Progressive Web Apps (PWA).

Gue orang yang anti pseudo native apps, tapi PWA menurut gue enggak termasuk ke kategori pseudo native. karena pwa tidak ada proses instalasi (add to home screen bukan instalasi kan?), mencoba akses beberapa low-level API dengan embed 'browser' (ehm, javascript engine), dan tidak ada target build spesifik per-os (mungkin skema sama, seperti tergantung 'apakah os tersebut sudah support aspek di pwa--service worker, web worker, push notification dll--apa belum, tapi tidak ada proses 'build' atau 'compile' disini).

Tentu nya ada kekurangan ketika kita lebih memilih membuat PWA ketimbang native mobile app, tapi jika memang aplikasi lo enggak membutuhkan low-level api seperti ingin mengakses kontak yang ada di hp, akses pesan, dll, mungkin PWA bisa menjadi pertimbangan.

Apa saja yang sudah bisa dilakukan oleh teknologi web? Silahkan cek disini

Baca selengkapnya disini tentang Native Apps are Doomed: https://medium.com/javascript-scene/native-apps-are-doomed-ac397148a2c0

Seperti nya minggu ini hanya sedikit tulisan yang menarik, sebagai penutup silahkan baca tentang How 16 Companies are Dominating the World’s Google Search Results disini

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.